Keunikan Sinema Iran

Anak-anak dalam film Iran (kiri-kanan-bawah) : The Fish Fall in Love, The Father, Stray Dogs

Anak-anak dalam film Iran (kiri-kanan-bawah) : The Fish Fall in Love, The Father, Stray Dogs

Puluhan pria tampak duduk berkerumun di bawah dua patung Buddha raksasa di Bamiyan, Afghanistan. Selang beberapa detik, terdengar suara dentuman disusul asap hitam nan tebal menyelimuti peninggalan sejarah ribuan tahun tersebut. Kedua patung itu telah diledakkan oleh orang-orang Taliban.

Tahun-tahun berikutnya, di bawah puing reruntuhan ‘Sang Budha’, seorang bocah perempuan keturunan Mongol tengah menggendong adik bayinya yang sedang menangis. Bocah itu bernama Baktay, ia adalah salah seorang penduduk etnis Hazara yang menetap di antara relung-relung tebing tempat ‘Sang Budha’ dulu pernah berumah.

Baktay adalah tokoh utama dalam film Buddha Collapsed Out of Shame dan peristiwa di atas adalah rangkaian adegan pembukanya. Selain Baktay, tampil pula Zahed dan Razieh. Anak-anak ini juga berperan sebagai tokoh utama, namun dalam film yang berlainan, yakni Stray Dogs dan The White Balloon. Begitu juga dengan sosok remaja laki-laki yang mencari ayahnya dalam sinema bertajuk The Father.

Film-film ini, berikut dua film lain yakni Border Café dan This Fish Fall in Love yang sempat ditayangkan di Bentara Budaya Bali (17-18/09), memiliki sejumlah kemiripan yang boleh jadi bukan suatu kebetulan belaka. Kesamaan yang terlihat atau tersirat di dalamnya bisa dibaca sebagai suatu kecenderungan (atau kekhasan) yang unik dari film-film pilihan tersebut.

Selain sama-sama digarap oleh sutradara asal Persia, seluruh film ini boleh dikata berupaya menghadirkan gambaran kenyataan yang telah atau tengah terjadi di Timur Tengah sana. Tak hanya menampilkan realitas kehidupan di negeri asalnya, tetapi secara khusus juga mencoba mengapresiasi bahkan menafsir ulang memori sejarah bangsa Afghanistan yang notabene masih memiliki kedekatan etnis dan keagamaan dengan Iran (lihat Buddha Collapsed Out of Shame)

Kekhasan yang rupanya menjadi keunggulan film Iran juga terletak pada proses pembuatan film itu sendiri. Melalui teknik penggambilan gambar yang terbilang sederhana, tanpa menggunakan efek audiovisual yang canggih, film-film tersebut sanggup menyuguhkan adegan demi adegan yang terkesan natural dan tidak dibuat-buat namun disebalik itu semua terkandung makna simbolis yang kuat.

Anak-anak dalam film Iran (kiri-kanan) : Buddha Collapsed Out of Shame, The Color of Paradise, Turtles Can Fly, Children of Heaven

Anak-anak dalam film Iran (kiri-kanan) : Buddha Collapsed Out of Shame, The Color of Paradise, Turtles Can Fly, Children of Heaven

Adapun pemilihan pemeran utama tampaknya menjadi salah satu pertimbangan penting dalam penggarapan film Iran. Kebanyakan di antaranya memakai anak-anak yang kebetulan bukan dari kalangan artis sebagai tokoh sentral. Pemilihan ini mungkin disebabkan lantaran—baik dalam kehidupan nyata atau film—anak-anak tampak tampil lebih apa adanya tinimbang orang dewasa atau aktor papan atas sekalipun, sehingga kesan natural yang disebutkan tadi lebih mampu untuk diraih.

Lihat saja pada film Buddha Collapsed Out of Shame, sebagian besar tokoh-tokohnya adalah anak kecil berumur dibawah belasan tahun. Atau pada Stray Dogs yang mengisahkan tentang perjuangan dua bocah untuk bertemu kembali dengan sang ibu yang sedang dipenjara. Sementara di film The White Ballon, Razieh tampak sangat apa adanya ketika berusaha sedapat mungkin merajuk sang ibu dan kakaknya untuk membelikan seekor ikan mas guna merayakan Tahun Baru Iran. The Father karya sutradara Majid Majidi juga memakai anak laki-laki sebagai tokoh utama cerita.

Seluruh hal ini, mulai dari teknik pembuatan film hingga pemilihan tema dan tokoh utama, menjadi suatu bahan perbincangan yang menarik dan bahkan sempat pula meramaikan acara diskusi yang digelar di Bentara Budaya Bali pekan lalu. Usai pemutaran film, sejumlah hadirin yang berkesempatan hadir memang diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

“Teknis pembuatan film Iran sangat berbeda dengan film-film Hollywood. Film Iran menggunakan teknik yang lebih sederhana” ujar Made Wianta. “Sebagai penonton, ada baiknya kita tidak hanya menikmatinya saja tetapi juga berusaha menggali ide-ide kreatif darinya yang siapa tahu bisa memperkaya penciptaan kita” tambah seniman yang multitalenta ini.

Malam itu hadir pula C. Ruddyanto, Kepala Balai Bahasa Denpasar, yang sempat memberikan komentar tentang betapa film-film Iran sanggup mengangkat tema-tema moral yang tak hanya menarik tetapi juga mendidik.

Adapun Bela Nusantara, seorang fotografer muda, sempat mengajukan pertanyaan mengenai aktor utama film-film Iran yang kerap kali diperankan oleh anak kecil. Pertanyaan ini memang paling banyak disodorkan oleh para penonton kala itu. Dan semoga saja uraian-uraian dalam tulisan ini dapat menawarkan suatu pandangan yang sekiranya dapat ‘mengatasi’ kegelisahannya. Bila tidak, mari kita diskusikan kembali dalam pemutaran film Bentara Budaya Bali bulan depan.

(dimuat di Radar Bali-Jawa Pos Group, 2010)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s