Petang Penuh Pujaan

: Desa Tenganan

Bila ini sudah waktunya,
Maka menarilah
sebagaimana biasa
Seperti dedaunan
pada bukit dan hutan kayu

Atau tirukan suara kuda itu
yang menyisakan penggal jejak
di dinding batu
Desa tua ini

Di mana seekor lebah
tertidur lelah
di ujung atap
Mengigau tentang kemilau embun
yang jatuh di rambutmu
di petang
penuh pujaan ini

Menarilah bagai
Setangkai ranting
di mana alunan surgawi
mungkin menghanyutkanmu
ke mata air

Kembali pada ruh
Kepada tubuh
tak tersentuh

yang menyelipkan namamu
di celah indah sebatang pohon
tempat tinggal para leluhur

Sentuhkan jarimu
pada genang cahaya
dan junjunglah doa ini
Hingga tak ada dewa
yang memberimu dosa

Ujarkan pula padanya
Tentang wangi dupa
dan asap bunga
yang mengawankan angan
masa depan seorang belia
atau seekor lebah tua setia
yang mati sia-sia

Menarilah saudaraku
Seperti nyanyian surgawi
Seperti ingatan pada leluhur
yang tak kuasa
tiada

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s