Studiklub Teater Bandung : Ah, Matjam-matjam Maoenja

Pandji Gumilang, seorang pria yang mengaku seniman tersohor, dan Kelana Abiseka yang konon adalah mantan prajurit, tampak gusar dan kikuk di sudut ruangan. Keduanya menundukkan kepala seakan sedang menyembunyikan wajah yang diliputi malu dan kebimbangan. Yang satu berdiri kaku sambil menggerutu, lainnya termangu memainkan ujung bajunya yang berwarna cokelat lusuh.

Tadinya, mereka adalah dua raden muda yang berlagak sebagai sosok penuh martabat yang biasa hidup di kalangan terhormat. Dengan mengumbar sajak-sajak picisan dan bualan tentang gaya hidup kaum ningrat, kedua orang itu seakan-akan sungguh memahami tingkah-polah nan kenes para borjuis. Saking menghayatinya, serta terkelabui pakaian mewah yang mereka kenakan, tak sedikit yang tertipu. Bahkan dua gadis cantik luluhnya hatinya, terjerat dongeng tentang kekayaan dan kemasyuran palsu tersebut. Apa mau dikata, hanyutlah dara remaja dalam buaian fatamorgana cinta. Mereka pun berdansa riang berpasangan, dalam romantisme angan-angan masa depan.

Namun, sebelum petikan gitar dan gesekan biola pengiring dansa usai, datanglah dua orang pria yang ternyata adalah majikan Pandji Gumilang dan Kelana Abiseka. Para ‘bangsawan asli’ tersebut sebelumnya telah menyuruh kedua pelayannya menyamar sebagai bangsawan demi mengerjai dan membalas rasa sakit hati mereka atas penolakan lamaran nikah yang dilakukan dua gadis pesolek tadi. Kedua pelayan itu kemudian diperintahkan untuk segera menanggalkan busana perlente, atribut kebesaran milik sang bos itu.

Para gadis yang awalnya jatuh hati kepada Pandji dan Kelana seketika berubah sikap. Kata-kata manis dan rayuan yang telah terlontar (dengan gaya yang dibuat-dibuat) berganti menjadi cercaan dan sinisme yang sangat bertolak belakang.

“Beginilah masyarakat zaman sekarang, hanya menilai orang dari fisik luar dan materinya saja. Begitu tahu yang sebaliknya, mereka mendadak lupa pada segala puja dan puji. Dasar, air susu dibalas dengan air tuba!” teriak Pandji sembari kemudian keluar panggung. Penonton pun sejenak terhenyak.

Itulah klimaks “Ah, Matjam-Matjam Maoenja” (Les Precieuses Ridiculous), naskah dramawan Perancis, Moliere, yang dipentaskan oleh Studiklub Teater Bandung (STB) bekerjasama dengan Komunitas Sahaja di Bentara Budaya Bali, 16 Juni 2010 lalu. Adegan puncak itu, dengan kalimat kunci yang mengundang tepuk tangan penonton tersebut, mampu ditampilkan secara apik dan wajar.

Memang, salah satu kekuatan pertunjukan drama ini, yang juga dipentaskan di Mataram, Yogyakarta dan Solo, terletak pada kemampuan akting tokoh utamanya, yakni Pandji Gemilang yang diperankan oleh Dedi Warsana. Dedi mampu menghayati seorang pelayan yang menyamar bangsawan, tampil menawan sepanjang pertunjukan, mengelabui penonton dengan lagak-lagu penuh tatakrama kesopanan.

Namun demikian, dalam beberapa adegan masih saja ada kesalahan-kesalahan pengucapan dialog yang kentara, dan celakanya, tidak dibarengi dengan improvisasi yang maksimal, baik yang dilakukan oleh tokoh utama maupun pemeran lainnya. Selain itu, kekurangan juga terlihat dari penempatan properti yang terkesan mubazir dan tidak fungsional lantaran hanya menjadi pajangan dan tidak dimanfaatkan guna mewujudkan suatu pementasan drama yang utuh.

Digarap oleh sutradara IGN Arya Sanjaya, teater bergaya stambul ini hendak menyuguhkan suatu kritik dalam balutan komedi—ciri khas naskah dan pertunjukan Moliere—tentang kenyataan sosial yang terjadi di masyarakat. Mengadaptasi naskah aslinya, drama ini mengambil setting di daerah Jawa Barat pada paruh awal tahun 1950-an, ketika gaya feodal masih kuat mencengkeram kaum tua, sementara kalangan muda telah dirasuki oleh gaya borjuis warisan kolonial.

Kesenjangan antargenerasi ini terasa jelas ketika kedua gadis, Asih dan Oti mengubah namanya menjadi Oca dan Anet, dimainkan dengan cukup memikat oleh Ria Ellysa dan Deti Kartika, karena nama aslinya dianggap terlalu kuno dan tidak mewakili kemodernan yang (menurut keduanya) berasal dari ‘Barat’. Sementara itu, sang ayah sekaligus paman yang diperankan oleh Ayi Kurnia Iskandar, serta merta menolak pergantian nama panggilan itu dan dengan keras kepala berusaha menjodohkan anak dan keponakannya dengan para bangsawan. Oca dan Anet pun menolak, cara-cara seperti itu terlalu kolot dan jauh dari dambaan mereka tentang kisah cinta yang romantis.

Meski berlatarkan situasi di era 50-an, drama ini tidak terasa basi dan tetap menarik untuk disimak. Bukan semata karena kandungan komedi yang senantiasa diselipkan di setiap adegan dan iringan musik dari Sarekat Kerontjong yang menghibur di bawah piñata musik Imam D Kamus, melainkan juga disebabkan oleh beberapa kata-kata ‘sentilan’ yang entah mengapa masih terasa dekat dan kontekstual dengan kenyataan saat ini.

Keterpesonaan akan materi, hedonisme, dan cara pandang yang cenderung mengarah pada westernisasi rupanya tidak hanya merasuki kaum muda generasi yang lampau di periode 50-an, tetapi juga telah menjangkiti pikiran dan kesadaran masyarakat Indonesia dewasa ini. Boleh jadi, hal inilah yang menyebabkan “Ah, Matjam-Matjam Maoenja” menjadi pertunjukan yang tak sebatas mengingatkan kita pada fenomena sosial di masa lalu yang merupakan bagian dari sejarah bangsa, melainkan juga mampu menyentak hati para hadirin yang menonton dengan penuh perhatian dan mungkin pula diam-diam menaruh ‘kecurigaan’ pada dirinya sendiri : ‘apakah saya termasuk di antara mereka?’

Maka, ketika Pandji Gumilang dan Kelana Abiseka meninggalkan panggung, disadari atau tidak, mereka sesungguhnya tidak benar-benar pergi tetapi masih berkeliaran di dalam benak para penonton. Seakan-akan ada ‘sesuatu’ yang masih membekas dan patut dipertanyakan ulang di dalam hati masing-masing orang.

Begitulah STB, yang tahun ini genap berusia 51, telah menunjukan pamornya sebagai salah satu garda depan teater modern Indonesia.

(dimuat di Bali Post, 2010)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s