Pandji Tisna, Si Romantik yang Visioner: Sebuah Refleksi Sejarah

Pandji Tisna (courtesy: blog.baliwww.com)Pulau Bali, lantaran realitas sejarahnya, dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata yang kerap mendapat sorotan. Walau lekat dengan berbagai citraan firdaus yang dapat melenakan, patut diungkap bahwa jauh sebelum pariwisata berkembang, Bali ternyata masih mengandalkan perdagangan budak sebagai kegiatan ekonomi utama. Hal itu dipicu oleh tingginya kebutuhan tenaga kerja VOC yang bermarkas di Batavia sekitar abad ke-18.

Baru kemudian, setelah kegemparan yang muncul pasca perang Puputan melawan Belanda yang menewaskan ratusan masyarakat Bali, sebagai wujud rasa bersalah dan malu kepada dunia internasional (sehubungan dengan Politik Etis), pemerintah kolonial mulai merintis dan mempromosikan Bali sebagai tujuan wisata.

Maka dimulailah babak baru Pulau Bali, ditandai dengan upaya eksplorasi atas kebudayaan-kebudayaan yang dianggap eksotis oleh bangsa Eropa. Kebijakan Baliseering digunakan Belanda untuk merumuskan dan meningkatkan ‘kesadaran’ masyarakat Bali akan seni-budayanya. Giliran berikutnya, tahun 1928 dibangun Bali Hotel persis di tempat perang Puputan pernah terjadi. Pendirian hotel perintis tersebut dilakukan oleh Perusahaan Navigasi Belanda (disebut KMP).

Mencermati hal di atas, kiranya mesti diakui bahwa jejak awal pariwisata di Bali memang tak terlepas dari peranan bangsa asing. Bukan hanya pemerintah kolonial, melainkan juga seniman seperti Walter Spies serta pelancong yang pulang dengan foto-foto dan catatan perjalanan yang membangkitkan hasrat bertualang orang-orang sebangsanya. Namun demikian, patut diingat pula pariwisata tak mungkin berkelanjutan tanpa peran aktif dari masyarakat Bali sendiri. Salah seorang tokoh pionir pariwisata yang berjasa ialah Anak Agung Pandji Tisna.

Pandji Tisna adalah perintis pariwisata di Bali, khususnya Bali Utara. Sosok kelahiran 11 Februari 1908 ini diakui sebagai “Bapak Pariwisata Bali”. Tahun 2003 silam, Pemerintah Daerah menganugerahinya penghargaan “Karya Karana”. Penghormatan tersebut tak lain karena jasanya dalam menggerakkan kepariwisataan di Bali, sektor utama yang kini menjadi tumpuan hidup sebagian besar masyarakat pulau tersebut.

Apa yang dilakukan Pandji Tisna sehingga ia kemudian layak untuk dihormati sedemikian rupa dan boleh jadi menjadi inspirasi bagi banyak pihak? Tulisan ini hendak menguraikan sosok Pandji Tisna bukan semata sebagai tokoh teladan dalam hal kepariwisataan, melainkan juga terkait integritasnya pada ruang lingkup kemasyarakatan, politik serta kesusastraan, sekaligus mencoba membaca dan memaknai kiprahnya selama ini.

Pilihan Sadar yang Visioner

Lain dengan sekarang, dulu akses menuju Bali masih terbilang terbatas. Sarana transportrasi yang sering digunakan orang asing saat itu ialah kapal layar KMP yang singgah di pelabuhan-pelabuhan di sebelah Utara pulau. Kawasan ‘pintu masuk’ ke Bali selain Padang Bai adalah pelabuhan Buleleng.

Dari tahun ke tahun jumlah wisatawan yang datang hampir selalu bertambah. Data dari Official Tourist Bureau menyebutkan ada 213 pengunjung Bali pada tahun 1924, naik menjadi 1.428 pengunjung pada 1929, dan rata-rata 3.000 pengunjung pada 1934. Buleleng pun tumbuh menjadi kota pelabuhan yang ramai oleh orang asing, pedagang dan toko-toko.

Pada masa itu, Pandji Tisna telah menyelesaikan pendidikannya di HIS Singaraja, Buleleng, dan menamatkan studi di MULO Batavia. Kesempatan memperoleh ilmu tentu tak bisa didapat dengan mudah kala itu. Namun karena Pandji Tisna adalah putra Raja Buleleng, Anak Agung Putu Djelantik, maka tak sulit baginya untuk bersekolah.

Setamatnya dari institusi pendidikan, tahun 1935, ia secara konkret membuka sekolah rendah berbahasa Belanda bernama De Sisya Pura School dan mengajar sebagai guru Bahasa Inggris di Partiwi Putra School. Boleh jadi waktu itu Pandji Tisna telah memilliki kesadaran tentang pentingnya mengembangkan pendidikan untuk rakyat yang seringkali berada ‘di luar akses’ .

Kesadaran untuk menjadi inisiator dan pelopor juga tercermin pada tahun 1940, ketika Pandji Tisna membeli tanah seluas 12 HA di areal perbukitan desa Seraya, Buleleng. Ia memilih menjadikan tanah tersebut sebuah kebun jeruk dengan alasan untuk memberi contoh kepada penduduk desa yang miskin agar bisa mengikuti jejaknya sehingga dapat menciptakan lahan kerja baru.

pantai lovina

pantai lovina

Contoh lain ialah sewaktu ia menyulap daerah sekitar pantai Buleleng menjadi sebuah lokasi penting yang hingga kini keberadaannya masih tetap berarti bagi masyarakat Bali. Sebagaimana data yang disebutkan di awal, Buleleng semakin lama semakin diramaikan oleh banyak turis. Pandji Tisna bisa jadi menangkap peluang berkah dari kondisi tersebut. Setelah membangun rumah peristirahatan yang ia beri nama Lovina pada tahun 1953, terletak di tepi pantai Kampung Baru, Desa Tukad Cebol (kini Desa Kaliasem), Pandji Tisna lalu mendirikan tempat-tempat penginapan lain di sepanjang pantai Barat Buleleng. Kawasan itu, yang kemudian dikenal dengan sebutan Pantai Lovina, kelak tersohor tak hanya di Bali tetapi juga di dunia. Karena peranannya inilah Pandji Tisna kemudian diakui sebagai “Bapak Pariwisata Bali”

Bila dilihat secara keseluruhan, menilik pula contoh-contoh sebelumnya, menjadi inisiator dan pelopor agaknya memang merupakan salah satu keunggulan dari pribadi pria beristrikan Anak Agung Istri Manik, Jero Mekele Seroja, Jero Mekele Sadpada, dan Jero Mekele Resmi ini. Wawasan dan kecakapan yang ia miliki tidak semata digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri. Kecerdasannya yang diperkaya dengan empati sosial justru membuatnya lebih tanggap pada kenyataan di sekelilingnya. Sebagai seorang inisiator, Pandji Tisna memiliki gagasan visioner yang dengan sadar dan konkret ia wujudkan agar dapat berguna bagi orang banyak di masa depan.

Menggiati Politik dan Sastra

Gagasan visioner, kesadaran dan empati sosial yang tinggi adalah beberapa syarat yang patut dipunyai oleh pemimpin. Dengan memiliki itu semua, seseorang—termasuk Pandji Tisna—berpeluang untuk unggul dalam kancah politik.

Hidup di tengah lingkungan kerajaan, terlebih sebagai putra pertama raja, dengan sendirinya membuat Pandji Tisna tak berjarak dengan dunia politik pemerintahan. Salah satu pengalaman politik yang termasuk menentukan ialah ketika Pandji Tisna mesti menggantikan ayahnya sebagai Raja Buleleng. Tahun 1944 setelah Anak Agung Putu Djelantik meninggal, selaku anak tertua, Pandji Tisna yang tak memiliki ambisi untuk menjadi penguasa di bawah kontrol bangsa asing, terpaksa menjadi Raja lantaran dipaksa pemerintah Jepang yang saat itu sudah masuk ke Bali.

Rekam jejak politik Pandji Tisna selanjutnya cukup menarik untuk disimak. Kedudukan politisnya waktu itu semakin diperkuat manakala ia terpilih sebagai Ketua Dewan Raja-Raja se-Bali pada tahun 1945. Pada tahun 1947 ia mengundurkan diri sebagai Raja Buleleng. Maka selanjutnya, ia memilih menjadi anggota Parlemen NIT (Negara Indonesia Timur). Peran penting lain yang dijalaninya ialah sebagai anggota DPR-RIS di Jakarta pada 1950, dan secara otomatis menjadi anggota DPR-RI (Kesatuan). Saat itu, ia bertemu dengan Presiden Ir. Soekarno yang mana ibunya adalah seorang wanita Bali dari Singaraja, Buleleng.

Beberapa karya Pandji Tisna

Beberapa karya Pandji Tisna

Eksistensi Pandji Tisna tak hanya di dunia politik, tetapi juga di kehidupan susastra. Pandji Tisna boleh dikata telah bersentuhan dengan kesenian sejak lama, bahkan segala keindahan karya cipta manusia itu mungkin sudah mengakar sedemikian dalam pada dirinya. Sejak muda ia piawi bermain biola dan kerap tampil dalam beberapa nomor pertunjukan komedi Stambul. Pandji Tisna terkesan sebagai sosok yang romantik. Tercermin bukan hanya pada pilihan nama ‘Lovina’ untuk tempat peristirahatannya, melainkan, yang lebih utama, ialah pada karya-karya sastranya.

…hamba menoleh ke tempat mereka itu, kelihatan gadis Jawa ganti Ni Mergayawati berdiri bersisi-sisian dengan Ni Nogati. Hati hamba berdebar-debar, karena rindu, sudah lama tiada menampak-nampak wajahnya. Dengan segera hamba pandangi dia tenang-tenang, akan menyatakan sukacita hati hamba, sebab ia sudah sembuh. Akan tetapi ia tiada memandang kepada hamba…

Nukilan penuh kata-kata mendayu nan mesra dari seseorang yang tengah diliputi perasaan kasih sayang tersebut dikutip dari salah satu novel karya Pandji Tisna berjudul I Swasta Setahun di Bedahulu. Berbagai novelnya yang lain seperti Ni Rawit, Ceti dan Penjual Orang, Dewi Karuna, I Made Widiadi, dan yang paling tersohor yakni Sukreni Gadis Bali juga menyimpan kisah dengan nuansa yang tidak jauh berbeda.

Namun demikian, tulisan-tulisan tersebut tidaklah semata bercerita tentang romantika yang berbunga-bunga saja. Esensi yang hendak ditawarkan sastrawan angkatan Balai Pustaka ini adalah sebentuk refleksi dan kritik atas kehidupan sosial-budaya, politik dan tradisi yang berkembang di masyarakat, khususnya di tempat kelahirannya.

Refleksi dan Otokritik

Pandji Tisna, dengan latar belakang hidup yang cukup kompleks dan pelbagai karya sastra ciptaannya tersebut, mungkin saja telah memberi suatu makna kepada sekian banyak orang. Boleh jadi tak sedikit yang mengagumi ketokohannya.

Memiliki sosok idola atau role model bukan pilihan keliru, pada dasarnya setiap orang menyimpan tokoh panutan di dalam bawah sadarnya. Tentu kita tahu, itu semua baiknya disikapi dengan cukup kritis, sehingga manakala kita memandang Pandji Tisna atau tokoh-tokoh lainnya, yang menjadi daya pikat bukan semata figurnya dengan segala romantika hidup yang ia miliki. Hal demikian, bila bercampur baur dengan persepsi yang salah, dapat membuat sang tokoh hanya berhenti sebagai mitos. Ia hidup, tetapi tidak berpijak pada bumi.

Oleh karena itu, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menampilkan biografi hidup Pandji Tisna sebagai tokoh yang sempurna dan layak dikagumi setiap orang, tetapi lebih kepada bagaimana kita bersama-sama bisa mengambil esensi dari apa yang diperjuangkan Pandji Tisna selama ini, mempelajari pilihan sikap dan dedikasinya, sehingga sebuah refleksi atau otokritik bisa terbangun. Yang terpenting bukan siapa Pandji Tisna, tetapi apa yang ia lakukan, apa yang bisa kita pelajari dari kiprahnya selama ini guna memaknai kekinian dan mempersiapkan masa depan.

Dengan demikian, kita berpeluang untuk tak berhenti sebagai ‘budak’, baik dari pengaruh luar seperti (budaya) bangsa lain maupun dari tirani persepsi kita sendiri. Kita pun tak akan lekas terlena dengan yang sebatas permukaan, yang jauh dari akar. Itulah alasan mengapa Sejarah ada, dan kita mesti menggalinya.

(dimuat di Jurnal Akar, 2010)

Advertisements

4 thoughts on “Pandji Tisna, Si Romantik yang Visioner: Sebuah Refleksi Sejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s