26 Desember

Dari jendela ini, kulihat wajahmu menengadah, memandang awan mungkin juga ingatan masa kanak dulu. Tanganmu ruai menyamar dini hari yang dingin sambil merapal doa, sambil meminta mimpi yang berlari-lari kecil di sekeliling kursi dan tempat tidurmu.

Ada hidung, telinga dan kumismu yang tampak ragu. Ingin jadi hutan bebas atau musim semi yang menggenang dalam kolam. Aku memandangmu lekat, memandangmu yang berbaring gontai, dari luar jendela kamarmu. Sementara seorang suster bergegas mendekapmu, seekor serangga lebih dulu menyusup ke celah basah embun, terbang melambung, lalu termangu di balik tirai. Lebah penyendiri, mungkin sarangnya hilang di suatu pagi, saat rintik hujan dan kehampaan jatuh di kebun ini.

Ia memandangmu dari sela tirai, membujukmu jadi perahu atau sauh, jadi awan, jadi pengembara yang berlayar jauh. Rumahmu adalah lautan, dan ikan-ikan adalah adik-adikmu, mereka bermain harpa, menyanyikanmu lagu-lagu riang, dan kau akan tersenyum, seperti balon-balon ungu yang dulu terikat di jarimu, seperti masa kecil kita.

Atau menyamarlah jadi pesulap, dengan seribu kantung rahasia, dan gula-gula yang lumer di bibirmu, bersama kelinci-kelinci putih, mengitari komidi putar sepanjang petang, membisikkan sebuah mantra, dan kau akan dapat segalanya. Kau akan tertawa, lepas, sebab tak ada ayah, tak ada ibu lagi.

Dari jendela ini, kulihat bibirmu kelu mengucap doa, sementara hujan tipis-tipis jatuh menerpa wajahku, rumput di kebun, pucuk-pucuk bunga, dan segala di sekitarku, di luaran sini. Aku menerka, gerangan apa lagi yang ada dalam hatimu, sebab kau tak kunjung tidur. Kau penuh ragu dan tanya, sementara seekor lebah lekas meninggalkanmu dari balik tirai, menjauh dari titik hujan lalu mencari sarang di antara pohon, dalam sisa katanya yang percuma.

Sekilas kau memandang lurus ke jendela, entah aku atau serangga tadi yang kau tuju. Atau mungkin langit dini hari itu, langit yang muram dan gerimis tipis yang mungkin terasa manis bagimu, kakak.

Kau memandang dengan sebuah tatapan, dengan sebuah senyuman yang tak mampu lagi kueja. Tanganmu bergerak perlahan, jarimu beradu tak menentu. Aku terhenyak, kau menatapku, bukan lagi awan, langit, atau hujan kala itu. Kau menatapku dengan rasa hampa yang tak mampu kulupakan. Di sini, dari jendela kamarmu, udara terasa jauh lebih hangat dari sentuhan manapun, dari hela napas ayah atau ibu.

Aku tahu rasa kantuk itu telah tiba sebab kedua matamu mulai goyah. Tubuhmu lautan sunyi suatu malam yang surut, kau goyangkan tumitmu perlahan, makin lama, makin lambat, dan aku bisa merasakan tangismu, lamat-lamat bercampur aroma bunga di kebun ini. Kini bayangkan apa saja yang kau suka, aku akan melompati hari dan membawakan apa saja untukmu seperti pesulap piawai. Aku akan membisikkan satu mantra, agar kau tak lagi merasa sendiri. Akan kubawakan sekotak roti atau ikan-ikan mungil yang kau impikan.

Jadi tidurlah segera, dekaplah selimut dan bantal tidurmu. Tak usah berdoa bila itu hanya membawamu pada hidup dan bayang-bayang masa depan. Aku akan menjagamu dari jendela ini, hingga kau terlelap. Kau bukan celah dari tiap pintu dan terali, kau bukan kata yang hilang di akhir kalimatku, jangan merasa sendiri, jangan bertanya lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s