Kepada P

Bagaimana bisa kutulis sajak sepertimu?
dengan liuk kata yang usang ini
dengan kolam dan ikan-ikan
yang melompat bergantian

Bagaimana hari sabtumu
bisa serupa selasa atau rabu?
Mengapa seekor ngengat pengantuk
selalu ingin jadi bagian sunyi puisiku?

Aku ingin menulis tentang bunga
maka kutangkap guguran kerria
di halaman kuil sajak
tapi tanganku
lebih dulu tergores duri, kias kata
dan lilitan hari-hari

Di atas pohon
sepasang nuri beradu riuh
terselip murungku di sana
di sela serat ranting kayu
yang jadi sarang percintaan

Mengapa riang suaranya
justru singgah di sajakmu
dan kelu paruh itu
jadi kehampaan dalam puisiku?

Seolah aku hanya punya
semak kata
sesat di rimbun daun
tak sanggup tumbuh
jadi pohon rindang musim semi
tak kuasa mencari diri
dalam sajak-sajakmu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s