Raden Saleh dalam Lukisan Sejarah Nusantara

“Raden Saleh Sjarif Bustaman….”
“Maksud Tuan pelukis kenamaan itu?”
“Dia juga telah buktikan apa yang Pribumi bisa”
“Betul, hanya sayang dia mengembarai Eropa, keluar masuk salon-salon elite Prancis dan Belanda dan Belgia, untuk jadi besar sebagai satu pribadi, tapi tidak menyebabkan sesuatu perbaikan
bagi bangsanya sendiri…”

Raden Saleh

Raden Saleh

Sayang sekali ucapannya benar, batin Minke di sela percakapannya dengan seorang Belanda golongan liberal. Dialog yang terjadi di Kamar Bola De Harmonie antara Minke, tokoh utama tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dan wartawan De Locomotief Semarang di atas seolah tengah mempertanyakan integritas Raden Saleh, maestro seni lukis yang hingga kini dikenal sebagai nasionalis.

Sejauh apa unsur fakta dalam nukilan novel berlatar sejarah tersebut? Betulkah Raden Saleh berjarak dengan bangsanya? Bagaimana mempertautkan kisah hidup pelopor seni lukis modern Indonesia itu dengan sejarah Nusantara? Apa sejatinya makna nasionalisme yang melekat pada Raden Saleh?
Lahir di Semarang (sekitar 1811) sebagai keturunan keluarga bupati ternama, Raden Saleh dikaruniai bakat seni yang kemudian membawanya berlayar ke Negeri Belanda dan menetap di sana (1829-1837) untuk memperdalam seni lukis kepada Cornelis Kruseman dan Andries Schelfhout. Perjalanan itu berawal dari pertemuannya dengan pelukis Belgia, A.A.J. Payen, yang tertarik pada bakatnya. Ia kemudian mendapat beasiswa untuk belajar di Eropa, hal yang fantastis di zaman itu.
Ketika orang Jawa masih menjalani cultuustelsel, Raden Saleh telah bersentuhan dengan budaya Jerman, Belanda, Perancis, Italia dan Inggris. Ia pernah menetap lama di Dresden, Jerman, hidup dari tunjangan para maesenas yang menyukai karya-karyanya. Raden Saleh pun merasakan dinamika di Perancis selama Revolusi 1848. Pengalaman ini tentu memperkaya batin dan mematangkan alam intelektualnya.
Raden Saleh tumbuh dalam pergaulan yang memungkinkannya menemukan esensi spirit modernitas Barat yang bercirikan individualisme dan rasionalitas. Ia boleh jadi adalah pelukis Indonesia pertama yang membubuhkan tandatangan pada karyanya. Melihat kecenderungan Raden Saleh ini, dengan sendirinya ia berjarak dengan kaum sebangsanya yang kebanyakan belum berpendidikan, hidup dalam keseharian yang komunal dan bermentalitas sarat simbolisme.

Namun, “jarak” (fisik dan kultural) tersebut justru memberi kesempatan kepada Raden Saleh untuk memahami bangsanya secara lebih objektif sehingga mampu melahirkan gagasan visioner. Usahanya mengumpulkan tinggalan etnografi dan melakukan penelitian paleontologis di Jawa Tengah menunjukkan kepeduliannya terhadap warisan budaya bangsa.

Walau begitu, seperti kerap terjadi dalam sejarah, orang-orang yang berpikir melampaui zamannya seringkali tidak mudah diterima oleh lingkungannya. Seperti Galileo Galilei atau Raden Ajeng Kartini, Raden Saleh tidak dengan segera “mendapat tempat” lantaran masyarakat belum cukup memahami alam pikirnya.

Apa yang dikatakan wartawan De Locomotief Semarang yang juga diamini Minke barangkali menggambarkan hal tersebut. Tentu tidak mudah bagi Raden Saleh melakukan penyadaran terhadap masyarakat Jawa, terlebih ia juga harus menghadapi kolonial Belanda. Karenanya, Raden Saleh belum mampu mewujudkan perbaikan yang progresif.

Namun demikian, sejumlah pengamat menganalisis bahwa Raden Saleh memiliki keberpihakan pada bangsanya. Misalnya I Ketut Winaya, dalam disertasinya berjudul “Lukisan-lukisan Raden Saleh Syarif Bustaman dan Ekspresi Anti Kolonial: Perspektif Kajian Budaya” diuraikan bahwa ikon-ikon dalam karya Raden Saleh mengkontruksi suatu sikap anti kolonial. Lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” menampakkan wajah Raden Saleh di antara prajurit pendukung Diponegoro. Sisi humanisnya muncul dalam “Potret H.W. Daendels” yang menyisipkan sosok-sosok pribumi saksi pembangunan jalan Anyer-Panarukan. Pasca ditangkap dan diadili pemerintah kolonial lantaran dituduh terlibat Pemberontakan Bekasi 1869, Raden Saleh menuangkan perlawanannya melalui lukisan “Perkelahian Singa” serta “Gunung Merapi dan Merbabu”.

Sikap anti kolonial merupakan benih kemunculan nasionalisme di Asia. Walau konsep ke-Indonesi-an belum tercetus pada awal abad XIX, tindakan Raden Saleh dapat dipandang mencerminkan rasa kebangsaan, yang giliran berikutnya dirumuskan sebagai wawasan nasionalisme. Dengan segala keterbatasan, sikap anti kolonial yang ia tunjukkan terbilang luar biasa. Patut diingat lagi bahwa Raden Saleh “dibesarkan” oleh Eropa, tetapi ia menolak menjadi pengikut kolonialisme.

Raden Saleh adalah tokoh besar yang mewarnai lukisan sejarah Nusantara. Penetapannya sebagai pelopor seni rupa modern Indonesia tentunya bukan hanya didasari oleh pencapaian seni yang mumpuni, melainkan integritasnya sebagai seorang humanis yang berpihak pada kaum terjajah.

Adapun berbagai bentuk penghormatan kepadanya, seperti Pameran Monografis “Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia” yang baru-baru ini diadakan di Galeri Nasional, hendaknya tak hanya memunculkan kekaguman dan kebanggaan terhadap sosok dan masa lalu semata, melainkan berkembang menjadi pemahaman akan pokok-pokok pemikiran dan sikapnya yang menginspirasi. Sama halnya seperti upaya membaca sejarah, yakni mempelajari yang silam guna memahami masa kini sehingga kuasa mengkontruksi diri demi masa depan bersama.

Daftar Pustaka
Lombard, Denys. 2008. Nusa Jawa : Silang Budaya, Bagian I : Batas-Batas Pembaratan, Cet. IV. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Toer, Pramoedya Ananta. 2012. Jejak Langkah, Cet. VIII. Jakarta: Lentera Dipantara.
Winaya, I Ketut. 2007. “Lukisan-lukisan Raden Saleh Syarif Bustaman Dan Ekspresi Anti Kolonial: Perspektif Kajian Budaya”, Disertasi (Denpasar: Fakultas Sastra, Universitas Udayana)
http://www.radensaleh.jerin.or.id

(Juara II kompetisi esai nasional “Mengenang Raden saleh” diadakan oleh JERIN/Jerman-Indonesia, Goethe Institut, Tempo, Majalah Historia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s