Karya Sastra sebagai Sarana Rekonsiliasi Bangsa

Bisakah sebuah karya sastra yang fiksional memberi peluang kepada pembaca untuk menentukan batas sekaligus jembatan antara kenyataan dan kisah, sehingga mampu mengikis stigma politik sebagaimana terjadi akibat tragedi 1965 dan menawarkan sebentuk rekonsiliasi secara menyeluruh?

Sebelum menjawabnya, layak kita simak terlebih dahulu latar historis di sebalik peristiwa 1965 yang kiranya bisa membantu mengingatkan kita pada sejarah kelam bangsa ini, berikut berbagai stigma yang menyertainya serta terbukti menghalangi kemungkinan terjadinya suatu upaya rekonsiliasi.

Setiap peristiwa sejarah pada dasarnya tidak pernah berdiri sendiri. Ada berbagai peristiwa lain yang melatarbelakanginya. Tragedi kemanusiaan 1965 merupakan akumulasi dari sekian kejadian dan kepentingan yang tak hanya berasal dari luang lingkup nasional tetapi juga dipengaruhi oleh situasi internasional kala itu. Pertarungan politik dalam negeri, keadaan ekonomi yang tak menentu, berbaur juga dengan problematik di tataran makro seperti Perang Dingin antara Barat dan Timur, menjadi faktor penentu terjadinya tragedi 1965 yang bukan saja menewaskan sekian banyak masyarakat Indonesia, melainkan juga merampas kebebasan orang-orang yang kemudian menjadi tahanan politik di Pulau Buru (1969-1979).

Lantaran sedemikian mencekamnya, tragedi 1965 telah menjadi suatu peristiwa traumatis bagi bangsa kita. Dikatakan traumatis, sebab di satu sisi ia coba dilupakan dan dipendam sebagai masa silam yang tak perlu diungkit kembali. Namun di lain pihak, tak jarang, orang-orang terus mewacanakannya ke publik melalui selubung kata-kata penuh dendam dan kebencian, tetapi tidak memberikan tawaran solusi atau penyelesaian.

Bahkan, kajian dan penelitian yang dihasilkan para ahli sejarah, meskipun telah berjuang mengumpulkan fakta dan data serta mencermati setiap dokumen resmi seobjektif mungkin, nyatanya belum cukup untuk mendorong masyarakat luas, baik yang terlibat ataupun generasi muda yang lahir belakangan, kuasa menyikapi tragedi itu secara lebih jernih dan berupaya menciptakan kondisi rekonsiliasi. Dengan kata lain, pendekatan objektif yang dilakukan para ilmuwan, walau penting, tidaklah cukup untuk menghilangkan stigma-stigma yang hidup pada alam pikir masyarakat terkait tragedi nasional tersebut.

Di sisi lain, generasi muda kita cenderung abai akan sejarah. Tak sedikit yang menganggap pelajaran sejarah terlalu serius, lampau dan tidak kontekstual. Ada atau tidaknya pengetahuan tentang sejarah, acapkali dipandang tak memiliki pengaruh pada kekinian, terlebih terhadap masa yang jauh di depan. Generasi muda lebih familiar dengan kecanggihan teknologi dan gaya hidup yang ditularkan melalui media audiovisual seperti televisi dan media-media on-line lainnya. Meski demikian, mereka ternyata tak bisa menghindar dari stigma-stigma sejarah, bahkan seolah menerima warisan pertentangan era ’65 yang seakan terus terpelihara.

Lantas, bagaimanakah cara menyikapi kenyataan di atas? Adakah tawaran gagasan yang bisa menghilangkan stigma serta trauma tersebut seraya mendorong upaya yang lebih nyata dan mendasar untuk rekonsiliasi bagi bangsa ini?

Pertama-tama yang perlu disadari bahwa rekonsiliasi baru bisa berlangsung bila masyarakat sudah cukup jernih memilah mana fakta dan mana fiksi serta terhindar dari kebencian yang berlarut-larut. Diperlukan suatu sarana penyadaran, dan sebagaimana disingggung di awal tulisan, tidakkah karya fiksi memiliki peluang untuk mengemban tugas tersebut?

Dibanding tulisan ilmiah sejarah, karya-karya sastra seperti puisi, cerita pendek, atau novel, lebih mampu menyentuh dan menggugah kesadaran pembacanya. Karya-karya yang berangkat dari kenyataan tersebut, bila ditulis dengan pertimbangan dan renungan yang matang, terbuka peluang untuk menjadi sarana penyadaran. Sastra yang terinspirasi dari peristiwa sejarah termasuk tragedi ’65, dapat juga disebut sebagai ‘dokumen sosial’. Meskipun bersifat rekaan, ia tetap bertolak dari realitas dan mampu menggambarkan kondisi sosial yang kontekstual.

Justru karena sifatnya yang fiksional dan rekaan, sastra menjadi lebih unggul daripada laporan penelitian atau tulisan ilmiah sejarah yang mengeksplorasi pemikiran semata dalam bentuk yang cenderung kaku. Karya sastra menggunakan bahasa yang lebih sugestif dan penuh nuansa rasa serta mampu mengungkapkan peristiwa secara lebih menyentuh dan meninggalkan kesan mendalam. Pada risalah penelitian atau tulisan ilmiah, penulis kerapkali tidak dapat mencantumkan hal-hal yang dianggap subjektif, sehingga berkurang peluangnya menjadi sarana kontemplasi. Sementara itu, melalui sastra, pendapat dan pemikiran penulis dapat dituangkan secara lebih leluasa, sehingga hal-hal yang selama ini ‘tak terkatakan’ memperoleh kemungkinan untuk diutarakan dan didiskusikan oleh khalayak.

Terdapat beberapa hal yang harus menjadi pegangan seorang penulis sebelum menghasilkan karya sastra yang dipandang memiliki kekuatan ‘penyembuhan’ tersebut. Seorang penulis mesti memiliki kematangan, bukan hanya dalam menggunakan bahasa sebagai sarana ekspresi namun juga kuasa mengendalikan dirinya agar tidak berpihak pada ideologi atau keyakinan saja. Ia harus menjaga subjektivitas yang sehat, dengan kalimat dan ungkapan yang tidak bernada agitatif. Karya-karyanya bukan merupakan luapan perasaan semata, tetapi di dalamnya terkandung pengharapan dan idealisme, yang hendak mengajak orang-orang untuk melampaui prasangka dan salah-benar. Penulis yang termasuk korban dari tragedi, terlebih dahulu haruslah kuasa melampaui trauma. Sementara seorang penulis muda mestilah memiliki kesadaran sejarah yang tinggi. Adapun upaya penulisan yang dilakukan, pada dasarnya tak hanya mencerahkan pembaca tetapi pertama-tama juga menyembuhkan dirinya.

Di banyak negara, sastrawan bahkan kerap dianggap sebagai pahlawan kemanusiaan. Kenzaburo Oe, pria kelahiran 31 Januari 1935, adalah salah satu tokoh besar dalam sastra Jepang modern yang karya-karyanya sarat dengan isu-isu politis, sosial, dan filosofis. Tulisannya yang berlatarkan Perang Dunia ke-II telah memberi pencerahan kepada masyarakat Jepang. Tahun 1994, karena dedikasi dan pencapaian karyanya, Oe meraih penghargaan Nobel Sastra. Mencermati hal ini, maka bukanlah suatu hal yang mustahil, bahwa justru melalui karya sastra terbuka suatu upaya rekonsiliasi bagi bangsa Indonesia.

(termasuk dalam 25 esai terbaik se-Indonesia, dalam kompetisi esai “Menyembuhkan Luka Sejarah” diselenggarakan oleh Goethe Institut, Tempo, Majalah Historia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s