Terbebas dari Parasit

Dalam sejarah Jepang, dikenal seorang maestro samurai bernama Musashi. Laki-laki yang berasal dari kampung Miyamoto tersebut mendapat pencerahan dari seorang guru zen di usianya yang masih belia. Sejak memperoleh kesadaran baru tentang hidup dan meninggalkan nama lamanya (Takezo menjadi Musashi), ia bertekad untuk mengikuti Jalan Pedang. Bukan untuk jadi “pengayun senjata” semata atau modal berkelahi agar dikenal sebagai samurai pemberani, tetapi lebih jauh lagi Musashi ingin mencari kesejatian hidup. Berbekal niatan itu, Musashi melatih kecakapan ilmu pedang dan mengasah kedalaman batinnya dengan sungguh-sungguh. Ia tak berambisi pada harta dan kedudukan terhormat yang dijanjikan para Daimyo berabad-abad lalu di Zaman Edo.

Pergulatan Musashi, yang diuraikan kembali secara indah oleh Eiji Yoshikawa, sedikit banyak mengingatkan saya pada perupa Made Budhiana, setidaknya selama tiga minggu belakangan ini. Kesungguhan Musashi akan jalan samurai dan penggalian dunia batin yang intens boleh jadi tak jauh berbeda dengan proses kreatif Made Budhiana yang saya simak dalam pameran tunggalnya di Bentara Budaya Bali (BBB), pertengahan Desember 2011 hingga awal Januari 2012 lalu.

Made Budhiana (kanan) dalam pembukaan pameran "Artshit! Parasite"

Made Budhiana (kanan) dalam pembukaan pameran “Artshit! Parasite”

Musashi dan Budhiana hidup di dua zaman yang terpaut jauh: yang satu merintis sejarah sejak masa tradisional di Jepang (sekitar 1584-1645), lainnya melakukan pergulatan di era postmodern masa kini. Realita dan jiwa zamannya memang berbeda, yang mempertemukan keduanya agaknya adalah spirit untuk mengeksplorasi kemampuan diri dan hasrat untuk mencari kesejatian. Masing-masing mencari esensi dari kerja yang dilakoninya: Musashi bergulat dengan seni pedang, sementara Budhiana berproses di ranah seni rupa.

Dalam upaya meraih hal tersebut, Musashi pertama-tama memilih untuk menepi dari keramaian dan berlatih keras bahkan terkadang cukup kejam mendisplinkan dirinya. Sementara Budhiana, belakangan justru membuka diri dan proses kreatifnya yang pribadi ke ruang publik. Lewat pameran tunggal bertajuk “Artshit! Parasite!” di BBB, Budhiana berupaya melakukan interaksi kreatif dengan banyak orang. Tak hanya berkolaborasi dengan kalangan seniman, kegiatan ini juga bermaksud melibatkan masyarakat awam. Apa yang dilakukan Budhiana seakan menyiratkan bahwa seni pada hakikatnya adalah milik semua. Seni dapat memberi makna dan kegembiraan tersendiri sehingga seharusnya tak berjarak dengan khalayak.

Jorge Luis Borges, penyair Argentina, punya pandangan yang selaras dengan ide Budhiana. Baginya, dalam dunia tulis-menulis diperlukan pemahaman atas pengalaman manusia yang esensial, yakni keinginan untuk menikmati kesendirian (soliter) sekaligus kebutuhan interaksi dengan semesta dan sesama (solider). Hal serupa tentu terjadi pula dalam dunia seni rupa dan seni pedang.

Parasit dalam Proses Kreatif

Karya-karya seni masterpieces atau jurus-jurus pedang yang hebat biasanya tercipta dari tangan-tangan yang telah lama bergulat dengan kedua sifat hakiki manusia tadi. Tetapi nyatanya tidak setiap orang mampu berlaku demikian. Dalam seni rupa misalnya, masih ada sejumlah seniman yang berjalan sendiri-sendiri dengan pikiran-pikirannya yang cenderung pragmatis. Tak sedikit di antaranya yang tenggelam dalam gemuruh pasar dan lalai akan esensi berkesenian, yakni meraih kegembiraan dari berkarya dengan sepenuh hati.

Made Budhiana tampaknya gelisah dengan kondisi tersebut. Eksibisi “Artshit! Parasite” yang ia gelar boleh dikata adalah sebentuk kritiknya pada dunia seni rupa di Indonesia, khususnya Bali, yang selama setahun belakangan dirasa cukup menjenuhkan. Menurut Budhiana, karya-karya cemerlang sangat jarang hadir di tengah banyaknya pameran yang diselenggarakan. Di sisi lain, seniman kelahiran 1959 tersebut juga merasa dunia seni rupa sudah lama dijangkiti parasit: pasar dengan segala atributnya telah memengaruhi proses kreatif para perupa. Celakanya lagi, menurut Budhiana, wacana yang kerap diperbincangkan dalam ranah seni rupa pun cenderung berorientasi (ujung-ujungnya) pada pasar. Tak sedikit seniman yang akhirnya hanya mengikuti apa mau pasar dan bukan berkarya atas dasar hati, sebagaimana hakikat berkesenian yang telah disebutkan tadi.

Maka, ketika opening exhibition “Artshit! Parasite” (20/12/2011), Budhiana sama sekali tidak menggantung karya di ruang galeri Bentara Budaya Bali. Malam itu, peraih Pratisara Affandi Adhi Karya, ISI Yogyakarta (1985 dan 1986) itu justru menciptakan karya pamerannya yang pertama melalui performance art yang mengkolaborasikan demo melukis dengan musik yang dikomposeri Wayan Gde Yudane serta visual art karya Hai Dai dan Yuliarsa.

Kolaborasi seni rupa Budhiana, musik karya Wayan Gde Yudane, visual dari Hai Dai dan Yuliarsa, bersama penonton lintas usia

Kolaborasi seni rupa Budhiana, musik karya Wayan Gde Yudane, visual dari Hai Dai dan Yuliarsa, bersama penonton lintas usia

Apa yang dihadirkan Budhiana terbilang tidak umum dilakukan oleh seniman-seniman lainnya di Bali. Gairahnya untuk mencari kesejatian dan eksplorasi diri agaknya telah mendorong lulusan ISI Yogyakarta tersebut untuk mengkonsep sebuah ide pameran yang segar yang disebutnya sebagai “pameran proses”. Melalui “Artshit! Parasite”, Budhiana ingin menekankan betapa “proses” adalah hal utama dan pokok yang mesti dilakoni oleh setiap seniman yang menganggap seni sebagai perwujudan eksistensi dirinya. Tanpa proses yang dibarengi dengan pergulatan secara intens dan terus menerus, seorang seniman hanya akan menjadi seniman sekedar, meskipun telah berkali-kali menggelar pameran.

Budhiana juga meyakini bahwa sisi solider seniman mesti dikedepankan karena seni memang harus dimasyarakatkan (bukan cuma dinikmati segelintir elite). Bahkan, diakuinya, bersentuhan dengan lingkungan sekitar justru akan memperkaya karya-karya, memberi warna baru dalam proses kreatif. Dalam pameran proses yang digagasnya pun Budhiana bermaksud membuka ruang seluas-luasnya bagi upaya kolaborasi bersama seniman maupun masyarakat luas.

spontanitas, kolaborasi Budhiana dan seorang penari

spontanitas, kolaborasi Budhiana dan seorang penari

Jadi, malam itu tak ada lukisan yang dipamerkan. Budhiana hanya memperlihatkan proses kreasinya kepada pengunjung sambil diiringi alunan musik nan mencekam yang seolah menggambarkan dunia penciptaan Budhiana. Gambar-gambar serta video bernuansa hitam putih dan muram pun menyelimuti sebagian dinding galeri BBB. Sebuah suguhan yang unik, meski sempat terkesan Budhiana terlalu lama asyik-masyuk dengan dunianya, sementara sebagian pengunjung yang terbilang awam satu per satu keluar dari ruangan. Ada yang pulang, ada juga yang menyaksikan “performance art” alami dari puluhan laron yang mengerubungi lampu taman. Memang tidak mudah mendekatkan seni (kontemporer) kepada khalayak, perlu cara-cara yang lebih atraktif namun tentunya tetap punya nilai estetik.

"Performance Art" anak-anak bermain dengan laron di taman,

“Performance Art” anak-anak bermain dengan laron di taman,

Kebebasan dan Kelenturan

Kepada murid-muridnya, Musashi sering mengatakan penting untuk membentuk diri dengan seribu hari mempraktekkan teknik dan sepuluh ribu hari latihan fisik. Disiplin dan latihan yang terus menerus menjadi kunci kematangan dalam permainan pedang. Kemudian, yang tidak kalah penting adalah mengolah rasa dan sensitivitas untuk mengontrol emosi dan memperdalam spiritual. Musashi sendiri juga menulis puisi dan memahat patung.

Ajaran Musashi di atas, dengan kata lain, menyatakan bahwa bakat yang diperoleh dari alam/pencipta tidak akan cukup untuk melahirkan seorang maestro. Talenta harus terus diasah dan diolah sehingga mengakselerasi pencapaian seseorang.

Gagasan ini turut disinggung dalam “Temu Kritikus dan Jurnalis” di BBB (7/1/2012) yang masih serangkaian dengan pameran “Artshit! Parasite!”. Wayan Suardika yang malam itu menjadi pembicara bersama Budhiana menekankan kembali bahwa proses yang total dan menyeluruh adalah tahapan penting yang harus dilalui setiap seniman. Dengan demikian, akan muncul rasa hormat kepada karya dan tidak menganggapnya benda dagang semata. Adapun seniman yang baru merintis karier disarankan tidak cepat puas diri dan merasa telah sampai puncak. Pergulatan harus terus dilakukan untuk membentuk bukan sebatas perupa yang terampil dengan karya yang laku di pasaran, tetapi seniman mumpuni yang telah melakoni hakikat seni dan menemukan dirinya yang sejati. Seluruh tahapan tersebut kiranya dilalui dengan kegembiraan di mana seni merupakan sarana katarsis, serta tak terkungkung oleh kerumitan diri pribadi dan tuntutan sana-sini (baca: fluktuasi pasar). Seorang seniman juga seyogyanya memiliki kelenturan. Kelenturan sebagai sebuah sikap atau integritas yang dengan terbuka mau menerima kritik dari orang lain serta tak segan berbagi dengan siapa saja.

Dan akhirnya, saya ingat ada satu pelajaran berharga yang didapat Musashi ketika bertemu perempuan bernama Yoshino Dayu yang kerap memainkan kecapi rusak dengan bagian dalam yang hampir berlubang seluruhnya. Segala variasi nada pada kecapi tersebut muncul dari sebuah kayu melintang yang ditempatkan di bagian tengah kecapi. Kekayaan nada dapat diciptakan dengan membiarkan benda tersebut bebas bergetar kesana kemari, dengan kelenturan tertentu di ujung-ujung intinya. Jika benda itu terlalu kaku, maka bunyi yang dihasilkan akan cenderung monoton dan dengan mudah dapat memutuskan dawai kecapi. Bila hal ini terjadi pada karakter manusia, maka bersamaan dengan itu parasit baru sebenarnya sedang tumbuh dalam diri kita.

(dimuat di koran Bali Tribune)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s