Kota di Pesisir Aegea

Berawal dari puisi penyair sufi bernama Jalaluddin Rumi, saya tertarik untuk mengenal Turki. Sajak-sajak karya ulama besar dari Konya (Turki bagian Selatan) yang sarat spiritualisme dan makna kemanusiaan ini membuat saya kerap berkhayal tentang negeri yang kerap disebut dalam berbagai buku sejarah, katalog wisata, hingga karya-karya sastra dunia tersebut.

Dalam angan saya, Turki adalah negeri yang setiap sudutnya dipenuhi kubah megah yang mengajak siapapun berimajinasi tentang kegemilangan suatu peradaban di masa silam. Terbayang pula berbagai rupa pakaian unik dan permadani aneka warna yang sering muncul dalam kisah dongeng seribu satu malam serta para pujangga yang meraih ilham di atas jembatan tua yang pernah dilintasi berbagai bangsa di dunia.

Ketika duduk di dalam pesawat Airbus pada pertengahan April lalu, saya coba mengenang-ngenang lagi bait sajak Jalaluddin Rumi yang dulu dideklamasikan oleh seorang sahabat di Bali. Kendati tak sepenuhnya ingat, saya sudah merasa sangat gembira dan takjub. Bagaimana tidak, tak berapa lama setelah itu saya akan sampai di Turki, tepatnya di kota Izmir.

Pesawat pun mendarat sebelum senja. Saya tiba di Izmir bersama kawan-kawan dari TVRI Gorontalo, TVRI Bandung dan KPLN TVRI serta sejumlah siswa SMP Islam Tugasku Jakarta yang akan mengikuti Festival Anak Internasional ke-35. Tahun 2013 adalah tahun kedua Indonesia berpartisipasi dalam kegiatan penuh makna yang diikuti 46 negara dan lebih dari 700 anak-anak di dunia. TVRI kembali hadir di Turki untuk meliput jalannya acara yang diselenggarakan TRT (Turkish Radio and Television) tersebut.

Dari bandara Adnan Menderes, tim TVRI menyusuri kota dengan menumpang bus hotel. Selain dinginnya suhu udara Izmir, pemandangan sepanjang jalan yang tampak di balik jendela bus saat itu juga ternyata di luar dugaan saya sebelumnya.

Hari pertama di Izmir, saya tidak menyaksikan pesona Turki sebagaimana yang kerap saya bayangkan—ekspektasi turistik yang mengagumi eksotisme warisan era kesultanan dan silang budayanya dengan Romawi. Izmir yang terletak di sepanjang pesisir Laut Aegea, bagian Barat Turki, nyatanya adalah kota metropolitan dengan banyak toko yang menjual produk sandang dan papan yang modern. Daerah yang dulu bernama Smyrna ketika masih dikuasai Yunani ini memiliki jumlah penduduk terpadat ketiga di Turki, setelah Ankara dan Istanbul, yakni sekitar 3,5 juta jiwa.

Kota dan Warga Izmir

Kota dan Warga Izmir

Walau begitu, Izmir rupanya menawan dari sisi lain. Bila dicermati, tata ruang dan kota Izmir cukup menarik dan teratur. Pemukiman warga dan perkotaan yang menyediakan fasilitas umum dan perbelanjaan tampak sengaja dipisahkan. Warna-warni bunga terlihat sangat mempercantik jalanan Izmir yang bersih dan jarang macet seperti di Istanbul atau kota-kota besar di Indonesia. Taman-taman dengan berbagai arena permainan anak bahkan alat fitnes disediakan secara gratis untuk siapapun. Pemerintah Izmir sepertinya begitu berpihak pada masyarakat umum.

Hari-hari berikutnya, saya menemukan sisi lain Izmir yang sangat mempesona yakni reruntuhan kota tua Ephesus dan Kuil Arthemis yang termasuk dalam tujuh keajaiban dunia kuno. Ini adalah tempat penting dan wajib dieksplorasi bila kita berada di Izmir. Dan benar saja, tim TVRI berkunjung ke sana bahkan membuat satu edisi feature yang akan sangat menarik untuk disimak.

166054_10200420353368976_2038599813_n

Puing Perpustakaan Celsus di kota silam Ephesus yang dibangun 300 tahun SM

Kota Ephesus yang pernah dimiliki Yunani kemudian bangsa Romawi ini terdiri dari sejumlah bangunan besar antara lain: perpustakaan bernama Celsus yang tetap indah dan megah walau sebagian bangunannya kini tinggal puing; ruang teater tertutup bernama Odeon; sebuah Grand Theater yang dapat menampung ribuan penonton; gedung parlemen; pusat perdagangan; toilet umum; kolam air mancur Pollio yang menyediakan air gratis untuk rakyat Ephesus di masanya, dan sejumlah kuil lain. Ratu Mesir yang sangat tersohor yakni Cleopatra pun pernah datang ke Ephesus.

Hampir seluruh pilar dan bangunan di Ephesus terbuat dari batu marmer. Entah bagaimana cara mengangkut batu marmer yang besar dan mengukir permukaannya yang keras itu di masa lalu. Bagi saya, Ephesus merepresentasikan sebuah peradaban 300 tahun Sebelum Masehi yang luar biasa serta masih sangat dijaga dan dirawat oleh pemerintah Turki kini.

Oh ya, ada satu pemandangan yang sangat istimewa bagi saya ketika mengunjungi Kuil Arthemis, yakni seekor burung yang membangun sarang di atas satu-satunya pilar Arthemis yang tersisa, dari total 127 tiang yang dulu pernah berdiri pada 550 SM. Hal ini seakan memiliki makna simbolis bahwa di atas peradaban besar yang pernah berkuasa, akan selalu ada peradaban dan kehidupan baru yang menggantikannya.

582021_10200425211850435_500822147_n

seekor burung dan sarangnya di atas satu-satunya pilar Arthemis yang tersisa (tampak jauh)

Bicara mengenai pesona Izmir, tentu bukan hanya soal artefak, keindahan alam dan kota, tetapi juga masyarakatnya yang sebagian di antaranya memiliki karakter fisik yang unik, yakni perpaduan antara darah Eropa dan Asia. Terletak di daerah pesisir membuat Izmir sejak berabad silam didatangi oleh berbagai bangsa baik untuk berdagang atau sekadar berpakansi. Kabarnya Izmir adalah daerah dengan cuaca paling bersahabat dan disenangi di Turki, terutama ketika musim panas. Maka, bukannya berpikir ala inlander, siapapun pasti mengakui betapa menariknya orang-orang Izmir.

Kekhasan tersebut tak hanya meliputi fisik semata melainkan juga pada pandangan dan budaya sebagian masyarakatnya yang relatif berbeda dengan masyarakat Turki di kawasan lain. Izmir, menurut masyarakat Turki sendiri, adalah kota paling sekuler dan liberal di negaranya. Masyarakat Izmir bebas berekspresi baik di ranah pribadi maupun tempat umum selaiknya gaya hidup “Barat”, hal ini kabarnya tidak akan kita jumpai ketika mengunjungi Istanbul atau Konya. Mungkinkah ini cermin keberhasilan demokratisasi atau kecenderungan westernisasi di Turki? Perlu telaah dan tulisan tersendiri untuk mengungkapnya.

Terlepas dari pertanyaan itu, selama lebih dari tujuh hari berada di Izmir saya mulai menyadari, di tempat ini kita bisa menyaksikan segala hal paling modern bahkan sangat bebas hingga sisi paling kuno yang adi luhung. Keduanya memiliki “ruh” tersendiri. Tetapi bagaimanapun, sebuah kota tidak akan bisa lepas dari emosi sejarah dan memori kultural peradabannya di masa lalu. Demikian pula di tempat kelahiran saya, Bali, dan tentu saja di Indonesia, semodern apapun laju perubahan yang terjadi, sejatinya di dalam sanubari dan memori kolektif masyarakat masih hidup dan terjaga akar budaya bangsanya.

(Tulisan dimuat di Majalah Monitor TVRI edisi Mei)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s