Catatan Reading Club novel “Rumah Perawan” karya Yasunari Kawabata

kawabata_yasunari_the_house_of_the_sleeping_beauties_pic_1Setelah melewati bab satu novel Rumah Perawan karya peraih nobel sastra asal Jepang, Yasunari Kawabata, malam Rabu kemarin saya dan teman-teman Komunitas Sahaja kembali menggelar Reading Club untuk menyelami bab selanjutnya. Berbeda dengan Neil Perry dan anak-anak muda di Dead Poets Society, malam itu kami tak melangsungkan “upacara” di gua rahasia, melainkan hanya di ruangan sederhana yang cukup terang, dengan meja dan kursi yang cukup buat sebelas orang.

Reading Club kali ini diawali dengan adegan Eguci tua yang kembali mengunjungi sebuah rumah untuk bertemu gadis perawan yang pernah tidur bersamanya di malam yang silam. Pengalaman itu nampaknya masih sangat membayang-bayangi laki-laki 67 tahun ini. Entahlah, apa memang ia tergoda pada pesona lugu gadis yang belum lagi dua puluh tahun itu, atau masih memendam rasa penasaran pada tempat yang terletak dekat laut tersebut. Baru sekali ini ia mengunjungi rumah mesum yang tak biasa, yang berisi para perawan cantik yang hanya tertidur sepanjang malam dan tak boleh diperlakukan secara tak senonoh.

Eguci datang kedua kalinya sambil membawa pikiran-pikiran yang saling berkelindan. Mengapa “pelacur-pelacur” itu, bahkan yang paling berpengalaman sekalipun, masih tetap perawan? Bagaimana mereka ditidurkan sehingga benar-benar seperti orang mati, seberapa banyak obat tidur dijejalkan ke mulutnya? Apakah setiap laki-laki tua yang datang merasakan kebahagiaan dan kesedihan sekaligus seperti yang ia alami pada malam terdahulu?

Kendati belum sampai ke chapter tiga, kepiawaian Kawabata mengeksplorasi konflik psikologis (sebagaimana gaya penulisannya selama ini dan kecenderungan novel Jepang kebanyakan) sudah sangat terasa. Bab dua Rumah Perawan menyuguhkan konflik batin yang lebih mendalam tinimbang chapter sebelumnya. Pertemuan Eguci dengan gadis-gadis perawan itu memang menyulut gairah kelaki-lakiannya, namun di sisi lain juga menghidupkan kenangan-kenangan di masa lalu, pengalaman traumatisnya yang belum dilanda pikun. Melalui aroma bunga yang tercium, suara ombak di luaran atau igauan si gadis dalam tidurnya, Eguci teringat pada perempuan-perempuan yang begitu meninggalkan kesan dalam hidupnya.

Saat sesi diskusi bersama kawan-kawan Komunitas Sahaja, yang dilangsungkan setelah sesi pembacaan, selain muncul pertanyaan tentang makna beberapa kata yang terasa asing dan janggal—mungkin karena terjemahan yang kurang sempurna*—sejumlah pandangan serta referensi ikhwal sejarah Jepang pun disampaikan oleh para peserta Reading Club. Ada yang menganggap Kawabata sangat imajinatif dan punya strategi menulis yang jitu karena mampu mengarang kisah tentang sebuah rumah pelacuran yang unik. Ada pula yang mempertanyakan, jangan-jangan rumah perawan itu memang ada di Jepang sehingga tidak sepenuhnya fiksional?

Beberapa teman pun mencoba membandingkan antara karya Kawabata dengan karya Yukio Mishima, Haruki Murakami, Eiji Yoshikawa, dsb. dan menemukan simpulan bahwa eksplorasi psikologis memang keahlian sastrawan Jepang. Betapapun bedanya zaman ketika para penulis itu hidup serta setting temporal dan spasial dalam karya-karyanya, ternyata tetap saja bermain di wilayah psikologis (baik berupa pergulatan individual maupun psikososial masyarakat). Berangkat dari pandangan ini, dipertanyakan pula, apakah memang tidak ada novel Jepang yang tak demikian?

Di sisi lain, sebagai referensi dalam membaca Rumah Perawan, kawan kami yang kuliah di Sastra Jepang menjelaskan bahwa di Negeri Sakura (bahkan hingga kini) ada upaya-upaya untuk “mempercepat usia” para generasi tua yang dianggap tidak lagi produktif. Dulu pernah diadakan suatu turnamen olahraga khusus lansia yang dianggap sebagai strategi untuk membunuh para orang tua secara “halus”. Selain itu—sebagaimana juga marak di negeri Barat—sebagian orang tua di Jepang melewati masa-masa akhirnya di panti jompo karena diabaikan oleh keluarga. Kondisi ini memberi gambaran betapa hampa sosok Eguci tua.

Selaiknya beberapa novel Jepang lain, simbol-simbol budaya Barat juga muncul dalam Rumah Perawan. Misalnya, Eguci yang terbiasa minum wiski sebelum tidur (bukan lagi sake) atau keheranannya saat mengetahui ada selimut listrik buatan Amerika yang punya dua tombol untuk mengatur suhu. Kedatangan kapal hitam angkatan laut Amerika Serikat yang dipimpin Komodor Matthew C. Perry pada tahun 1853 memang tak pelak telah membubarkan politik isolasi Jepang dan membuka akses negeri ini kepada dunia luar. Arus deras perubahan melanda tatanan hidup masyarakatnya, terlebih setelah Restorasi Meiji anak-anak muda dikirim untuk mempelajari keunggulan Barat dan membawanya pulang ke tanah air. Realitanya, bukan sebatas pengetahuan dan peralatan industri modern yang dibawa, tetapi juga kebudayaan Barat dalam gelombang besar.

Strategi herodianisme memang membuat Jepang sanggup menjadi Macan Asia yang dalam beberapa aspek justru lebih maju dari bangsa Barat. Di lain pihak, hal ini sebenarnya juga memunculkan suatu ketegangan—antara nilai-nilai tradisional yang konservatif dengan tatanan baru yang modern—serta alienasi kultural bagi masyarakat Jepang. Tak hanya generasi tua yang merasakan itu, tetapi juga anak-anak muda yang semakin hari boleh jadi kian tak memahami spirit Bushido dan upacara minum teh.

Maka ketika Kawabata melukiskan perasaan Eguci tua yang penuh paradoks saat berhadapan dengan perempuan belia yang perawan itu—saat ia merasakan kebahagiaan sekaligus kesenduan, saat gairah bertukar tangkap dengan rasa bersalah, saat perasaan malu dan hina berbaur dengan belas kasihan, ketika tubuh muda yang molek itu justru mengingatkannya pada putri bungsunya—agaknya bisa dibaca juga sebagai cerminan psikologis bangsa Jepang itu sendiri.

(*Rumah Perawan diterjemahkan tahun 1970-an oleh Dewan Kesenian Jakarta)

Advertisements

2 thoughts on “Catatan Reading Club novel “Rumah Perawan” karya Yasunari Kawabata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s