HUTAN BELAKANG RUMAH

Desember lalu
kami jalan ke hutan
lewat belakang rumah
di 11th Avenue

aku panjat pohon kayu
meraba gurat tubuhnya
tumbuh menahun
berkawan cuaca

mungkinkah dibangun pondok
di antara dahan kokoh ini
tempat aku suatu saat bakal kembali
lalu tak sengaja
melihat seekor tupai tertidur di dalamnya
mengigaukan hujan biji-bijian dari angkasa

Solar dan Luna menyalak
saling bersahutan
di bawah sana
mencari sarang serangga
barangkali terkubur
di lorong hangat rahasia

aku lompat ke dasar
terhempas di tebal salju
bulu-bulu halus Luna berlepasan
melayang lembut di kelopak angin
di sekeliling evergreen
selamanya hijau
seperti juga pohon waktu

/2/

Kami tiba di satu jembatan
di atas sungai separuh es

aku menengokkan kepala
berharap melihat bayangan diri
tapi terpaku, terlalu takjub
pada tetesan air
yang beku
di tepi-tepi
sebelum jatuh
luruh menyatu dalam arus

“seekor rubah
baru lewat di situ!”
katamu
di atas batang yang rebah
tampak tapak mungil
dibuat sekejap lalu
menyadarkanku dari deras sungai
di Cau Tua
ingatan masa kanak
di bawah pancuran mata air

/3/

terengah dalam suhu rendah
bibirku kaku berdarah
tanjakan demi tanjakan
terdaki
tak sengaja kusesap luka sendiri

dari tempat terang
ke belukar yang sepi
apalagi yang menunggu
di seberang situ?

adakah pohon-pohon tegar
yang rindu dekapan,
sungai yang menanti musim semi,
atau angin yang ingin kekal
dalam dingin abadi

kami lalu ke Utara
menduga arah selanjutnya
menerka tanda dari pejalan sebelumnya

Solar tiba-tiba berlari
mendahului
disusul Luna si kecil putih

ingin aku segera berseru:
hei, lari yang jauh!
pilihlah samun paling rimbun
lompatlah sampai terperosok!
lari, larilah sampai tersandung
di ujung
di mana beruang merah
menyimpan panen buah-buahan
pestalah
atau pergi menuju semak lain
tersesat sendiri di situ
bermain sampai petang
hingga tak terkira jalan pulang

ceritakan padaku
apa yang tampak dari puncak
pemandangan bumi di bawahkah?
sarang-sarang manusia yang bagai liliput
di mana kau merasa
seperti Waktu
meranggasi musim demi musim

adakah pondok buat si tupai pemimpi
ke negeri mana para serangga mengungsi

aku bersicepat
mengikuti jejaknya
mengejar Solar
memeluk Luna!

/4/

Desember lalu
kami main ke hutan
lewat belakang rumah itu

tamasya dari 11th Avenue
menyusuri jalan-jalan lampau
aku, Solar, Luna dan Kau

2014-2015

dimuat di KOMPAS MINGGU, 18 Oktober 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s