Catatan tentang Harimau! Harimau! Jalan Tak Ada Ujung dan STAR WARS

Harimau-harimauAda dua novel Mochtar Lubis yang masih segar di pikiran saya sekarang ini. Keduanya adalah karangan yang kian melejitkan nama penulisnya, yang juga jurnalis kawakan, sebagai sastrawan terkemuka di Indonesia. Novel pertama berjudul “Harimau! Harimau!” (1975) yang saya baca serangkaian kegiatan Reading Club yang digelar Komunitas Sahaja. Segera setelah menutup halaman terakhir buku ini, saya lanjut menelisik novel “Jalan Tak Ada Ujung” (1952).

Membaca keduanya secara maraton membuat beragam info, ide dan perasaan jadi menumpuk dalam diri saya dan meminta dituangkan lewat tulisan selain diskusi yang sempat dilakukan bersama teman-teman komunitas. Sempat sedikit menyesal, kenapa tak langsung menulis begitu selesai membaca “Harimau! Harimau!”, kemudian membaca novel selanjutnya dan lanjut menuliskan ulasannya. Jadi satu persatu, lebih runtut, bukankah itu kebiasaan yang bagus buat melatih fokus dan barangkali kedalaman perenungan?

Mungkin pilihan membaca ngebut dipengaruhi oleh kegiatan saya belakangan ini yang juga secara kejar tayang menghabiskan episode Star Wars dari yang pertama sampai keenam. Maklum saja, semua mesti selesai disimak sebelum acara traktiran pacar untuk nonton episode ketujuh di bioskop nanti berakhir membosankan karena gagal paham ceritanya.

Darth Vader

Darth Vader

Walhasil, dari maraton membaca dan nonton film itu, tulisan ini akan coba sekalian mempertemukan novel “Harimau! Harimau!” “Jalan Tak Ada Ujung” dan nukilan episode prequels Star Wars. Mengapa prequels? Karena fokus episode ini tak semata pada aksi peperangan di galaksi sana dengan aneka pukauan visual yang menyertainya, tetapi juga memperlihatkan sisi manusiawi dari sosok kejam nan melegenda, Darth Vader. Terlepas dari lemahnya acting, penggarapan dialog dan karakter tokoh, kisah si anak nekat nan baik Anakin Skywalker yang bertransformasi menjadi Dart Vader menarik disimak karena seolah cerminan tragedi yang sekali waktu juga terjadi dalam kenyataan hidup manusia.

Cinta Terlarang (?)

Hal pertama yang segera terasa dari ketiga cerita tersebut adalah tema “cinta (eros) terlarang”. Saya kira bukan semata kebetulan kisah cinta terlarang ada di setiap cerita. Bukankah dari lakon Oedipus di Yunani, roman Romeo dan Juliet, dongeng Sangkuriang, film silat dari Cina, Hollywood, sampai sinema peraih penghargaan yang prestisius, dan dalam keseharian kita, cinta terlarang juga akrab kita dengar atau saksikan? (mungkin juga Anda alami sendiri?) Hubungan perselingkuhan, cinta beda agama, beda kasta, cinta di kalangan LGBT dan kondisi-kondisi lainnya yang bagi sebagian orang masih dianggap tabu. Walau mesti diingat pula, terlarang atau tidaknya sebuah hubungan tergantung dari perspektif dan norma yang lekat dalam pikiran kita.

Anakin Skywalker dan Padme Amidala

Anakin Skywalker dan Padme Amidala

Tokoh utama “Harimau! Harimau!” yaitu Buyung, si lajang pencari damar, bimbang antara berdosa dan tidak berdosa setelah bermain cinta dengan istri muda seorang dukun tua yang sedang sekarat di rumahnya di tengah hutan. Pemuda gerilyawan bernama Hazil dalam “Jalan Tak Ada Ujung” juga menjalin cinta rahasia dengan istri dari Guru Isa yang jadi kawan seperjuangannya selama melawan tentara sekutu.

Skywalker sendiri tak kuasa melepas keter(p)ikatannya pada Padme Amidala, seorang senator jelita di Republik Galactic, tempat yang terletak nun di luar angkasa sana. Pada masa itu, para ksatria Jedi seperti Skywalker memang dilarang memiliki keterikatan duniawi, baik pada benda maupun sosok, apalagi mencintai lalu menikahi senator di negaranya sendiri! Tetapi seperti kata pepatah lama, all is fair in love and war, terkadang cinta tumbuh tanpa kita duga, tanpa rencana dan tak tertahankan.

Masing-masing kisah romantika tersebut pada akhirnya membuat pembaca/pemirsa, setidaknya saya sendiri, berusaha memahami alasan yang mendorong seorang tokoh memutuskan suatu pilihan (yang seringkali tidak mudah) baik secara sadar maupun tidak. Cara pandang ini boleh dipraktekkan dalam hidup sehari-hari sehingga kita terhindarkan dari prasangka berlebih serta dalam hubungan sosial menjadi lebih toleran dan welas asih.

Ketakutan Tak Bernama

Selanjutnya, tema yang juga mengemuka dari semua karya di atas adalah perihal ketakutan manusia. Ketakutan yang muncul kala ia berhadapan dengan pikirannya sendiri: pikiran yang menciptakan objek maupun kondisi tertentu yang membuat ketakutan kita yang tak bernama itu menemu bentuknya, sehingga memudahkan kita untuk menunjuk kepada sesuatu sebagai penyebab timbulnya rasa cemas, gentar, ngeri atau nyeri. Sebab, bukankah ketakutan adalah bawaan kita sejak lahir. Manusia takut ketika kegelapan menyelubungi pandangan, kegelapan yang muncul karena tiadanya cahaya, keterbatasan pengetahuan ataupun ketidakpedulian yang mengalahkan keberanian dan kemerdekaan kita dalam menelusuri “kebenaran”.

Jalan Tak Ada UjungPada “Harimau! Harimau!” ketakutan itu berasal dari bayangan pikiran tentang sosok nenek penghuni hutan alias harimau kelaparan yang mengintai nyawa ketujuh pencari damar. Dalam novel “Jalan Tak Ada Ujung” ketakutan Guru Isa bersembunyi di balik teror mimpi buruk tentang kedatangan tentara NICA dan aneka siksaan yang bakal diterimanya jika ia tertangkap. Mimpi buruk pulalah yang acapkali menghantui Skywalker dan keputusan-keputusan yang dipilihnya kemudian.

Saya menduga, penyebab ketakutan mereka sesungguhnya adalah kengerian menghadapi maut. Maut yang oleh sebagian orang dipandang sebagai takdir di mana tempat, tanggal, dan penyebab terjadinya telah ditentukan tanpa sepengetahuan kita. Maut dengan demikian menjadi sebuah peristiwa (yang genting) dalam hidup manusia. Pengertian ini kerapkali menjerumuskan kita pada kegentaran bilamana peristiwa itu datang tak terduga dan kita belum siap menyambutnya. Perasaan takut kehilangan pun datang menghantui, entah kehilangan nyawa sendiri atau orang yang disayangi, kehilangan kesempatan mengalami lebih banyak hal di dunia maupun kehilangan eksistensi diri.

Melewati pergulatan perasaan ini, Buyung, yang termuda dari ketujuh pencari damar, memutuskan pilihan yang rasional, yaitu berhenti melarikan diri dari harimau dan justru berbalik menyusun strategi untuk memburu dan menguasai ketakutannya. Demikian pula Guru Isa yang tercerahkan justru setelah tertangkap NICA dan disiksa. Ia barangkali terheran-heran, ternyata siksaan tubuh tidak lebih sakit daripada siksaan yang selama ini dibayangkannya.

Buyung dan Guru Isa berhasil mengatasi dan melampaui ketakutannya. Mereka pun semakin menghargai dan bergairah untuk hidup serta kuasa menguatkan lagi eksistensi pribadinya: suatu kebahagiaan yang tak terperi. Dalam kondisi itu, mereka mungkin tak lagi bersitegang berhadapan dengan maut. Hal sebaliknya dialami oleh Skywalker karena ia tak pernah berkontemplasi, berbicara sungguh-sungguh dengan diri dan ketakutan yang ia hadapi.

Jembatan Generasi

Cukup dengan membaca resensi novel “Harimau! Harimau!” dan “Jalan Tak Ada Ujung” kita sudah tahu bahwa karya Mochtar Lubis ini berkaitan dengan sejarah Indonesia. “Harimau! Harimau!” memotret mentalitas manusia Indonesia, yang berhubungan dengan pidato kebudayaan Lubis tahun 1977—adapula yang menyebut Mochtar Lubis sedang mengkritik Sukarno lewat tokoh Wak Katok. Sementara “Jalan Tak Ada Ujung” jelas dilatari situasi revolusi fisik, walau fokus ceritanya lebih kepada pengalaman manusia.

Dari kedua novel tersebut, pembaca, khususnya anak muda, bisa memperoleh gambaran yang membantunya makin menghayati sejarah Indonesia. Lalu bagaimana dengan Star Wars? Sejarah macam apa yang bisa dipelajari dari serial populer tersebut?

Belum ada yang bisa membuktikan bahwa adegan-adegan di film Star Wars diangkat dari suatu peristiwa sejarah tertentu yang terjadi di luar angkasa sana, in a galaxy far, far away. Semuanya adalah fantasi semata. Walau demikian, sebagian fans Star Wars pasti membenarkan kalau cerita dalam film ini terinspirasi dari sejumlah kisah historis seperti Revolusi Perancis, Revolusi Meksiko, Perang Vietnam, Kerajaan Roma dan Mesir, budaya Bushido di Jepang, Ksatria Templar, perbudakan, perang sipil, dan sebagainya.

star wars fans photo credit to usa.today

Fans Star Wars

Tetapi bukan hal di atas yang ingin saya jelaskan. Saya hanya ingin memotret hal yang sederhana, yakni betapa film Star Wars—yang juga berpengaruh pada sejarah budaya pop dunia—memiliki penggemar yang lintas generasi dan lintas benua. Ada seorang kakek yang dulu menonton Star Wars pertama kali di tahun 1970-an, ada pula anak SMP yang baru menonton semua serinya di akhir tahun 2015 ini.

Sering kita mendengar bahwa antara generasi tua dan muda kini kesulitan untuk bertemu dari hati ke hati. Masing-masing dianggap memiliki dunia yang berbeda. Yang muda berkata orang tua itu ketinggalan zaman dan tak bisa memahami kegembiraan anak muda. Sementara orang tua kerap menganggap anak muda sekarang tak mampu sebaik generasi terdahulu.

Ada gap tersendiri di antara mereka. Nah untuk soal ini, Star Wars bisa jadi jembatan penghubung antara yang tua dan muda ini. Coba saja dudukkan si anak SMP dan kakek yang sama-sama fans berat Star Wars itu di satu sofa dan minta mereka bercakap tentang urutan menonton seri 1-6 yang paling tepat, cara bicara Master Yoda, siapa antara Han Solo dan Greedo yang menembak lebih dulu, mengapa Leia tidak menjadi Jedi, siapa ayah Rey atau warna ligthsaber favorit masing-masing. Tak peduli apa latar belakang mereka, dari negara mana asalnya, keduanya bisa berbincang hangat dalam satu frekuensi.

Mimpi-Mimpi Kita

Di akhir tulisan ini, saya ingin menambahkan, bahwa ketiga karya tersebut pada dasarnya dicipta dengan aneka mimpi yang menghidupi imajinasi manusia. Mimpi tentang hal yang tak kunjung kita ketahui kebenarannya: luar angkasa dan asal muasalnya, adanya manusia di galaksi lain yang membuat kita tidak sendirian terasing di bumi dan bayangan akan kematian. Kita pun bermimpi, berharap sanggup menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Berharap mampu memahami diri sendiri sebagai manusia dan memberi nilai padanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s