INSPIRASI DARI LICIN : Semalam di Ijen Resort and Villas

Menjelang Maghrib di Licin

Menjelang Maghrib di Licin

Nyanyian doa terdengar sayup dari kejauhan, melantun lembut, berbaur dengan suara katak dan serangga pohon, menyambut petang pertama saya di desa ini.

Seakan masuk ke sebuah lukisan, di hadapan saya terhampar sawah dan hijau tetumbuhan yang tertata alami, pohon kelapa berpencar di sana-sini dengan latar belakang hutan dan gunung-gunung biru tua yang agung menjulang diselimuti selapis kabut dan merah lumeran cahaya matahari senja.

Suasana yang mendamaikan batin.

Sejak kecil, pemandangan tersebut kerap saya lihat di kanvas-kanvas para seniman di kampung halaman saya, Bali, dan kini dapat saya nikmati secara nyata. Bukan di sekitaran Batur, Ubud, atau desa wisata di Bali lainnya, melainkan di sebuah kampung bernama Licin, di Banyuwangi, Jawa Timur.

Saya menyusuri jalan setapak dan sekilas melihat seekor belalang melompat di antara rumput. Wangi samar bunga terompet menguar di udara bersama lantunan shalawatan yang datang lamat-lamat dari masjid-masjid di kampung warga di bawah sana. Sesekali saya tersenyum mendengar suara anak-anak yang bersemangat membaca Al Quran yang juga terdengar sayup-sayup di kejauhan.

Pemandangan di Ijen Resort & Villas

Saya sangat beruntung berkunjung ke tempat ini dan berada di salah satu lokasi terbaik di desa Licin, di mana orang-orang bisa menemukan beberapa keistimewaan sekaligus: kedamaian yang terpancar dari alam serta khusuk doa pemuja, yang menyediakan inspirasi bagi siapa saja.

Tak hanya saya yang merasakannya, ada juga orang-orang dari tanah jauh seperti Eropa yang datang kemari, barangkali untuk jeda dari hiruk pikuk kota di negara asalnya, dan demi memperoleh pengalaman yang pastinya tidak akan terlupakan ini. Kami kebetulan sama-sama menginap di Ijen Resort and Villas, yang terletak di tepi hutan tadah hujan Ijen National Park, menghadap persis ke deretan lima gunung yang menawan, serta berlokasi tak jauh dari Kawah Ijen yang tersohor karena keindahannya itu.

Beberapa di antara para turis tersebut tampak baru saja usai berenang di infinity pool sembari mengabadikan kebersamaannya lewat kamera. Ada juga yang sedari tadi kelihatan berjalan-jalan mengelilingi areal penginapan yang sama sekali tidak berpagar.

di tepi kolam

di tepi kolam

Hal ini menjadi daya tarik atau boleh dikata “kemewahan” tersendiri dari resort dan villa ini. Kemewahan yang tercipta karena tiadanya jarak dengan alam dan masyarakat lokal yang memunculkan keakraban dan rasa aman. Para karyawan yang bekerja di Ijen rupanya juga berasal dari desa setempat. Ada keramahan yang natural yang saya rasakan manakala berbincang dengan mereka. Suatu kesan yang hangat di tengah udara sejuk kampung Licin.

Sebagaimana tamu penginapan lainnya, sebenarnya saya—yang datang bersama rombongan teman-teman—juga ditawari jalan-jalan atau yang lebih populer disebut trekking secara gratis oleh Ijen Resort and Villas dengan rute dari areal sekitar penginapan menuju hutan, mengitari persawahan dan perkampungan. Hanya dua jam dan saya yakin itu akan meninggalkan kesan tersendiri buat kami. Sayangnya kami harus segera kembali ke Bali dan bahkan tawaran berkunjung ke Kawah Ijen pun tak bisa kami penuhi.

Infinity

Kendati demikian, pengalaman singkat bermalam di Ijen Resort and Villas telah membuat kami ingin kembali pada liburan berikutnya. Kami menyukai suasana di tempat ini dan yang paling menyenangkan adalah aneka kebebasan ekstra yang diberikan Ijen bagi tamu-tamunya.

Siapa saja bebas check in dan check out pada jam berapapun tanpa diganggu oleh dering telepon pengingat sebagaimana kerap terjadi di hotel-hotel lain. Kita bebas memesan tempat sarapan atau makan malam yang diinginkan. Sarapan bisa digelar di tengah-tengah sawah atau hutan. Makan malam dapat dilakukan di spot outdoor mana saja di kawasan penginapan seluas empat hektar ini dengan ditemani nyala obor yang romantik.

Masih ada berbagai kebebasan lain yang ditawarkan yang saya rasa menjadi satu menu khas Ijen yang tak hanya memberikan kemudahan tetapi juga keleluasaan bagi kita untuk menjadi alami tanpa dibatasi banyak peraturan. Maka tak heran bila penginapan ini memilih untuk tak berpagar dan tak berjarak dengan alam sekitar.

Seluruh keistimewaan di atas membuat liburan di sini tak sekadar menjadi pelesir biasa, tetapi juga penyegaran batin, pertemuan yang intim dengan alam dan pengalaman berjumpa dengan budaya dan masyarakat yang berbeda, yang semuanya adalah ilham bagi jiwa dan penciptaan. Kalau ada rezeki lagi, ingin rasanya kembali dan melanjutkan bab awal novel serta puisi-puisi saya berikutnya. Mudah-mudahan!

februari 2016, foto : vanesa martida

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s