Bagaimana menjawabnya?

Siapa yang menciptakan Tuhan? Siapa memberi nama benda-benda? Di mana Tuhan tinggal? Siapa manusia pertama? Ada apa di atas luar angkasa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak saya dapatkan dalam buku filsafat atau astronomi, puisi atau kitab suci, tetapi dari dua gadis kecil berumur 7 dan 11 tahun.

Sore tadi di Ubud, seperti biasa 15 menit setelah jam mengajar selesai adalah waktu untuk tanya-jawab dan berbincang tentang apa saja dengan anak-anak. Terkadang mengenai sejarah, negara-negara yang jauh, mimpi atau motivasi yang biasanya berangkat dari cerita-cerita tentang pengalaman sehari-hari mereka, yang mungkin terkesan remeh temeh buat kita, tetapi boleh jadi tidak buat anak-anak itu.

Dan sore barusan mereka mengajukan pertanyaan yang sungguh tidak mudah mencari jawabnya. Bukan saja karena stok jawaban pasti terhadap pertanyaan itu memang tidak tersedia, tetapi juga bagaimana cara menjelaskan tentang absurditas kepada anak-anak dengan bahasa paling sederhana?

Di satu sisi saya tak ingin memberikan jawaban yang tidak mengajak mereka berpikir seperti “semua sudah diatur oleh Tuhan” “ah itu dari dulu memang begitu” dan jawaban gampangan lainnya. Tetapi di lain pihak, saya juga tidak ingin membuat mereka berpikir terlalu jauh dan malah jadi rumit. Dilema, jujur saja.

Seraya memikirkan jawabannya, saya tanyakan, darimana mereka mendapat pertanyaan itu dan mengapa mereka ingin bertanya seperti itu? Kata yang 7 tahun, ia hanya penasaran saja dan pertanyaan itu sering muncul di kepalanya. Kakaknya sendiri bilang itu gara-gara ia melihat gambar langit di handphone. Sayangnya saat dia hendak menunjukkan gambar langit itu, HP-nya tak ada, tertinggal entah di mana.

Saya sendiri bertanya-tanya, apakah waktu kecil dulu pernah merasakan kegelisahan yang serupa mereka? Mempertanyakan darimana asal diri, Tuhan dan semesta? Entahlah, yang pasti saya mesti mencoba menerangkan sebaik-baiknya pada mereka.

Saya coba jawab pertanyaan terakhir terlebih dahulu dengan penjelasan sains. Dengan bantuan beberapa hula hoop, kertas-kertas dan gelas jus, saya coba menjelaskan tentang betapa luasnya luar angkasa, bahwa di luar bumi ada Galaksi Bima Sakti, dan di luar galaksi ini ada galaksi-galaksi lain yang jumlahnya lebih dari 100 milyar, ada matahari-matahari lain dan mungkin makhluk hidup lain (alien).

Saya berhenti sebentar untuk bertanya apa mereka mengerti maksud peragaan tersebut, kemudian lanjut bercerita, bukan hanya mereka tetapi ada banyak manusia sejak zaman dulu berusaha untuk menjawab pertanyaan mereka, dan karena itulah lahir dan berkembang berbagai ilmu pengetahuan seperti biologi, sejarah, fisika, kimia, astronomi, matematika dan bahkan ada ahli alien.

Memang belum ada jawaban pasti, namun saya coba juga katakan, mungkin suatu saat mereka akan tahu, mungkin nanti ketika mereka berumur enam puluh tahun atau lebih akan ada penemuan tentang isi jagad raya yang sebenarnya. Kalimat ini sedikit berbau penghiburan, tapi saya harap bisa jadi motivasi mereka untuk tak henti bertanya dan mencari tahu sampai tua nanti.

Kemudian untuk pemberian nama bagi benda-benda, seperti kita ketahui merupakan suatu kesepakatan dari masyarakat tertentu pengguna bahasa itu. Bahasa juga tidak seketika jadi, tetapi dipengaruhi berbagai hal misalnya kedatangan bangsa-bangsa lain ke Nusantara dulu yang membawa benda tertentu atau menamai suatu benda yang kemudian nama itu diserap oleh masyarakat sekitar dan mengalami penyesuaian dengan lidah orang lokal, sehingga jadilah suatu kata yang kita kenal hari ini.

Bahkan bila saat ini ada benda baru yang ditemukan, sang penemu dapat menentukan apa nama yang tepat untuknya. Gadis-gadis kecil itu pun jika berhasil menemukan benda-benda baru di luar angkasa, bisa menamainya dengan nama mereka : komet Kirana, asteroid Nadia.

Tiga pertanyaan paling sulit saya coba jawab sekalian di akhir sembari memberi contoh-contoh tafsir beberapa agama. Ada bermacam-macam jawaban dari agama-agama tersebut dan itu tidak apa-apa. Sama seperti ketika kita hendak pergi ke restoran Bebek Bengil di Ubud, ada banyak cara untuk menujunya, bisa lewat Jalan Hanoman atau Jalan Pengosekan, bisa dengan jalan kaki atau naik sepeda, yang pasti tujuannya sama kan.

Dalam hidup, tujuannya bisa saja demi surga, tetapi yang tidak kalah mulia adalah menjadi diri sendiri yang sebaik-baiknya dan berbagi kepada orang lain. Saya pun tengah mengingatkan diri sendiri waktu mengatakan ini.

Kelas sore tadi pun diakhiri dengan sepuluh ucapan syukur terhadap sesuatu yang telah diperoleh selama ini dan mengapa kita bersyukur atasnya. Saya kemudian pamit pulang, naik motor dari Ubud sambil merasakan udara sejuk di sepanjang jalan.

Advertisements

2 thoughts on “Bagaimana menjawabnya?

  1. Setiap pertanyaan selalu berpasangan dengan sebuah jawaban, yang diperlukan adalah waktu untuk menemukan jawaban itu.

    Kadang tidak semua jawaban dapat manusia temukan di kehidupannya sendiri, kadang manusia temukan dari manusia lainnya, namun jawaban yang paling tepat manusia akan temukan saat Sang Pencipta sudah memutuskan saatnya tepat untuk manusia tsb walau kadang tak kita temukan saat kita masih hidup oleh karena keterbatasan kita memahami semua proses kehidupan ini.

    Not being knowing an answer sometime is an answer, make us more human with limitations and surrender to GOD.

    • Terimakasih, Mas Ferry sudah berkunjung dan berkomentar. Mungkin benar kata orang, misteri apapun juga ada pula jawabannya; dan “terus mencari” membuat hidup semakin berarti. Salam hangat dan jangan lupa review 105 nya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s