Dunia Jiwa BARASUARA

sampul album Taifun (foto : rollingstone.co.id)

sampul album (source : rollingstone.co.id)

Pertemuan pertama dengan musik Barasuara terjadi beberapa bulan lalu di sebuah sore yang tak direncanakan. Kali itu saya bersama pacar, seorang metalhead yang baik dan punya referensi musik yang seringkali menarik. Ia gemar membaca apapun terkait musik dan sejak dulu kerap bercerita tentang Iga Massardi, musisi yang kemudian menjadi frontman Barasuara.

Sore itu ia memutar CD Taifun (2014), album terbaru Barasuara, sambil kembali bercerita tentang Iga dan segala upayanya sejak awal mencipta embrio-embrio Taifun, mencari personel band dan beberapa kisah tentang proses kreatif mereka.

Karena saya kekasih yang juga baik, saya memilih fokus pada kata-kata dia tinimbang menyimak lagu-lagu yang tengah diputar. Perhatian saya baru benar-benar teralihkan ketika melihat judul lagu yang baru saja muncul di layar: Hagia.

Saya tanya “Ini ada hubungannya dengan Hagia Sophia?” dia juga tak yakin. Tetapi saya merasa, ah pasti Hagia Sophia! Ketika lirik lagu mulai dilantunkan, saya tertegun. Saya tidak bilang padanya kalau sore itu saya diam-diam telah jatuh cinta lagi, tetapi kali ini dengan sebuah lagu, yang seketika memancing “perjumpaan-perjumpaan” saya berikutnya dengan Barasuara.

Mula Nyala

Karya yang baik pada umumnya mampu menyentuh penikmatnya sehingga ia merasa bahwa sebagian pengalamannya, baik yang fisik maupun batin, terwakili atau justru diperkaya oleh karya tersebut. Ia memang dapat bersifat unik dan khusus tetapi pada saat yang sama juga mengandung hal-hal yang universal sekaligus, yang mempertautkan kenangan dan angan banyak orang.

Misalnya saja, salah satu ‘kitab’ saya yakni novel Musashi yang isinya memang berkisah tentang kehidupan seorang samurai berabad lalu di Jepang, tetapi ketika membacanya, saya merasa ada pengalaman saya yang juga termuat disitu.

Atau saat menyimak beberapa sajak bagus Sitor Situmorang, yang ditulis di Eropa atau Sumatra berdasarkan pengalamannya seorang, tetapi tetap menimbulkan keharuan karena mengingatkan pada pengalaman saya sendiri dan tak jarang memperkayanya juga.

Lagu Hagia, selain menghidupkan lagi kenangan ketika saya menyusuri Hagia Sophia sekian tahun silam, juga menyalakan impian saya dan sebagian dari kita, yang mengidamkan multikulturalisme dalam laku sehari-hari masyarakat, orang-orang yang toleran sejak dalam pikiran.

Waktu itu saya merasa, ada sesuatu nih di band ini, atau, menggunakan bahasa yang sering digunakan teman-teman saya di komunitas : “ada kedalamannya”. Saya pun melanjutkan mendengar Barasuara, kali ini sendirian, pasang headset, streaming semalaman di kamar.

Dalam kemerdekaan dan kekhusukan semacam itu, menikmati karya seni seakan sebuah ritual yang membahagiakan. Dan mendengarkan Barasuara kala itu, sungguh membuat hati berdegup, gembira dan haru.

Perjalanan dalam Musik dan Lirik

Setiap lagu dalam Taifun seakan menggambarkan suatu “perjalanan” tersendiri: ada yang singkat dan tepat di tujuan, ada pula yang berliku menyisakan tanya, atau proses menuju sesuatu entah sebuah jawaban atau renungan di akhir, ada juga yang mengubah luka dan rasa hampa menjadi kegairahan. Dan semua perjalanan itu dihadirkan lewat komposisi musik yang selaras dengan lirik, yang mampu menimbulkan suatu emosi yang “bulat”.

Ketika menulis puisi, saya termasuk golongan yang meyakini bahwa sebagus apapun bunyi, ia tidak boleh mengalahkan arti. Misalnya, sebuah kata atau metafor tidak boleh semata dipilih hanya karena rimanya kedengaran enak, tetapi harus dipertimbangkan pula, sekuat apa perannya dalam membangun keutuhan makna suatu sajak.

Dalam konteks album Taifun, masing-masing lagu punya rangkaian nada yang sejalan dengan soul yang melekat pada liriknya. Seandainya pun Iga ternyata menulis semua lirik lagunya belakangan daripada musiknya, bukan hal yang berbeda dan bukan masalah pula sebab lirik-liriknya justru menegaskan arti dari komposisi musiknya. Jadi, antara musik dan lirik saling menguatkan satu sama lain, sehingga “perjalanan” yang saya maksud di atas dapat tercipta.

Sebuah perjalanan mengandung kesan istimewa karena adanya dinamika. Bayangkan saja ketika naik kereta dari Jakarta ke Bandung tanpa melihat pemandangan di luar jendela yang berganti-ganti, mendengar sapa dari petugas kereta api yang sesekali menawarkan makanan, dan malahan hanya tertidur saja dari awal sampai tiba di tujuan, tidakkah perjalanan itu akan terasa kering dan tak menggairahkan?

Sebaliknya, dinamika dalam Taifun membuat kita sulit merasa bosan ketika memutarnya berulang kali. Kita akan diajak mendengar efek gitar dan bunyi drum yang mengesankan, menyimak suara bass yang mengasyikkan, musik yang mengalir terkadang tak terduga ujungnya dan meresapi lirik-lirik yang menarik.

Setiap lagu dalam Taifun sebenarnya bisa berdiri sendiri dengan kekuatan masing-masing tanpa dipertautkan dengan lagu-lagu lainnya. Tetapi mereka juga bisa dilihat secara menyeluruh sebagai satu kesatuan album yang dinamik yang berbicara tentang jiwa-jiwa manusia.

kika - Marco, Puthi, Iga, Asteriska, Gerald, TJ (source : javajazzfestival.com)

Marco, Puthi, Iga, Asteriska, Gerald, TJ (source : javajazzfestival.com)

Dunia Jiwa

Para pencinta Barasuara dan pengamat musik pastinya tahu band asal Jakarta ini memiliki personel yang masing-masing dikenal telah memiliki pencapaian yang baik, bahkan sebelum bergabung dengan Barasuara. Ada Gerald Situmorang (bas), Marco Steffiano (drum), TJ Kusuma (gitar), Puti Chitara (vokal), Cabrini Asteriska (vokal) dan Iga Massardi (vokal, gitar). Pengalaman yang mereka miliki tentu berpengaruh pada proses kreatif kelompok ini sehingga mampu hadir dengan meyakinkan di album pertamanya.

Memasuki dunia Barasuara akan jadi lebih komplit jika menelusuri pula bagaimana karya-karya mereka dikerjakan dari awal. Cerita tentang proses ini menarik karena biasanya akan menginspirasi orang-orang untuk mengatasi masalah, menyiasati kemandekan dan lebih giat berkarya. Adapun sejumlah tulisan tentang proses kreatif Barasuara telah dimuat di aneka terbitan majalah, wawancara youtube maupun situs online seperti ini dan yang satu ini

Selain itu, menarik pula menelisik dunia jiwa yang terbangun dalam Taifun. Ya, pengalaman batin manusia adalah tema yang dieksplorasi pada album tersebut. Ada berbagai kondisi psikologis yang diketengahkan seperti hati yang terluka, rasa bersalah,  kehampaan, jiwa yang ingin merdeka, pikiran atau renungan atas sekitar maupun spiritualitas serta kontemplasi diri.

Terkait hal ini, saya sebenarnya kurang sependapat dengan tulisan di link ini yang menyatakan bahwa Barasuara mengusung nasionalisme terutama karena menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan lugas.

Rasanya agak berlebihan, apalagi tulisan itu seolah-olah menyatakan tidak ada band lain yang memakai bahasa indonesia yang dikatakan “baku” itu. Terlebih, kalau boleh menambahkan, judul lagu ketujuh dalam Taifun yakni Tarintih sesungguhnya bukan berasal dari bahasa Indonesia baku, tetapi gabungan dari “tarian” dan “rintihan” (sumber : klik di sini )

Terkait dengan nasionalisme, barangkali istilah itu muncul dari pernyataan Iga seperti yang saya baca di tulisan ini. Iga mengatakan ingin membuat musik “yang akrab untuk orang Indonesia” sehingga ia memilih menggunakan lirik berbahasa Indonesia.

Dan rupanya tidak sedikit orang yang melekatkan Taifun dengan nasionalisme. Padahal, tidakkah keistimewaan Taifun justru karena sifatnya yang universal dan bukan dibatasi oleh pengertian nasionalistis itu? Sebab Taifun sendiri tidak secara khusus bercerita tentang Indonesia atau kota manapun (seperti misalnya tema Surabaya dalam album Dosa, Kota dan Kenangan dari Silampukau atau sebagian lagu-lagu Efek Rumah Kaca yang jelas mengkritisi fenomena, tragedi atau peristiwa tertentu di Indonesia). Taifun lebih menggarap dunia jiwa, tema psikologis yang dialami manusia di berbagai belahan bumi, yang melampaui definisi nasionalisme.

Karena yang diketengahkan adalah pengalaman batin, ia justru tak melulu menggunakan pilihan kata yang lugas, melainkan memakai bahasa yang langsung mengena ke jiwa yakni bahasa puisi. Beberapa metafor yang digunakan misalnya: “baramu padam/lara menyala tanpa suara” (Nyala Suara) ; “semua yang kau rindu/semua menjadi abu” (Sendu Melagu); “berlabuh lelahku/ di kelambu jiwamu” (Bahas Bahasa); “lepaskan rantai yang membelenggu/ nyalakan api dan lenteramu” (Api dan Lentera); “dalam kesunyian gerammu bertalu” (Menunggang Badai); “belati itu belati tebar pedih tebar perih” (Tarintih); “pagimu yang terluka/ malammu yang menyiksa” (Mengunci Ingatan); “menari dengan waktu” (Taifun).

Simak juga lirik-lirik berikut, yang cukup lugas namun puitis dan dalam : “makna-makna dalam aksara/ makna mana yang kita bela” (Bahas Bahasa); “Sempurna yang kau puja dan ayat-ayat yang kau baca/ tak kurasa berbeda kita bebas untuk percaya” (Hagia); “saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu/ kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu” (Taifun)

Menjaga Nyala

Ruang batin kita memang sangat kaya akan perasaan, angan dan kenangan. Ia adalah sebuah medan eksplorasi yang tidak ada habisnya. Saya senang jika Barasuara tetap menjadikannya sebagai tema dasar untuk karya-karya selanjutnya, yang tentunya tetap dihadirkan lewat musik yang dinamik dan padu dengan lirik lagu.

Taifun telah memikat banyak orang. Tak hanya menjadi salah satu album terbaik tahun 2015 tetapi konser-konsernya pun dinanti. Ibaratnya, ia sudah menghidupkan api dan cahaya bagi Barasuara, sekarang tinggal menjaga nyalanya yang semoga makin membara di album berikutnya.

Advertisements

2 thoughts on “Dunia Jiwa BARASUARA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s