Tiga Hal tentang To Kill A Mockingbird & Totto-chan

16-03-25-22-04-56-551_decoMari mengingat lagi dua novel lawas yang masih terasa memikat hingga sekarang : To Kill A Mockingbird karya Harper Lee dan Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela (selanjutnya disebut Totto-chan) karya Tetsuko Kuroyanagi.

Novel-novel yang telah berkali diterbitkan ulang tersebut menarik jika dipertemukan karena punya beberapa kemiripan.

Pertama, baik To Kill A Mockingbird maupun Totto-chan dikisahkan dengan bahasa yang jernih yang menceritakan dunia sang tokoh utama: seorang anak perempuan dengan pribadi yang masih murni yang seiring pertumbuhannya menyaksikan dan berupaya mencerna realita yang ditemuinya.

Ada Jean Louise Finch atau Scout, bocah perempuan tomboy dari Alabama, Amerika Serikat, dalam To Kill A Mockingbird, dan Totto-chan, gadis cilik dari Jepang. Keduanya memiliki rasa penasaran yang besar dan ketakjuban dalam memandang dunia yang dilihatnya: benda-benda, lingkungan dan orang-orang baru serta berbagai “pengalaman pertama” yang membekas, tak jarang ajaib dan berakhir misterius serta kejadian lainnya yang kadang tak bisa mereka pahami namun kemudian menjadi ingatan berharga ketika dewasa.

Kedua, masing-masing mengetengahkan suatu babakan sejarah yang pernah terjadi di masa lalu. Dalam To Kill A Mockingbird, sejarah hadir melalui cerita yang fiksional namun kontekstual dengan zamannya. Sementara Totto-chan merupakan memoar sang pengarang berdasarkan pengalaman hidup yang ditulis apa adanya yang seluruhnya berasal dari ingatan Tetsuko.

Lewat kisah Scout, kita membayangkan kehidupan di Amerika Serikat tahun 1930-an dengan masyarakat yang hidup dalam situasi kemunduran ekonomi dan racial segregation (politik pemisahan berdasarkan ras) antara kulit putih dan kaum kulit hitam atau Afro-Amerika. Sementara itu, Totto-chan mengingatkan pembaca pada situasi Jepang menjelang Perang Dunia II lewat aneka cuplikan kisah dan peristiwa yang dialami si bocah perempuan.

Ketiga, karya-karya ini juga bicara tentang pendidikan, khususnya yang tergolong “tidak umum”, yang jarang diterapkan di zaman yang menjadi setting novel-novel itu. Bahkan secara tersurat maupun tersirat, masing-masing novel berupaya mengkritisi sistem pengajaran formal yang berlaku pada masa itu serta pola asuh anak di rumah : sebuah kritik yang masih kontekstual di era sekarang di berbagai negara.

Polos

Sedikitnya tiga hal di atas yang kemudian mengusik saya. Yang pertama, saya menaruh kagum pada kedua pengarang, khususnya Tetsuko Kuroyanagi, yang sanggup bertutur dengan bahasa yang sangat jernih seakan-akan tidak berpretensi menjadikan novelnya sebuah karya sastra mumpuni. Saking beningnya, kalimat-kalimat itu seolah-olah tidak dibuat dengan pergulatan bahasa yang intens.

Ada banyak novel lain yang memunculkan deskripsi yang dibumbui aneka metafor atau terkesan canggih dengan kalimat yang berliku-liku untuk menjelaskan suatu tempat atau suasana. Pendeknya, karya-karya itu punya hasrat besar untuk mengejar estetika bahasa. Sementara To Kill A Mockingbird dan terutama Totto-chan justru menggunakan bahasa yang terasa biasa, bahasa yang polos dan seolah apa adanya namun sangat menyentuh justru dengan kepolosannya itu.

Hal tersebut membuat saya yakin bahwa bahasa yang mereka gunakan memang dipilih dengan pertimbangan yang matang, bukan karena miskin kosakata. Jadi, bukan berarti bahasa yang “sederhana” ini dipilih tanpa riset, tanpa membaca berbagai novel bagus lainnya, tanpa pergulatan bahasa yang serius dari pengarangnya.

Mungkin juga salah satu penyebab penggunaan bahasa yang seperti itu adalah karena pilihan sudut pandang penceritaan novel itu dan dunia anak-anak yang hendak dikisahkan.

Harper Lee menulis novelnya dengan sudut pandang “aku” yakni Scout—yang oleh banyak orang diduga sebagai Lee waktu kecil— yang berkisah tentang masa kanaknya dulu. Karena ini semacam refleksi, di beberapa bagian, seperti cerita seputar proses pengadilan terhadap Tom Robinson—seorang kulit hitam yang dituduh memperkosa perempuan kulit putih—di mana Atticus menjadi pengacara yang membelanya, kerap menggunakan bahasa dan pernyataan pemikiran orang dewasa. Walau begitu, cara penuturan novel secara umum tetap terasa ringan dan membawa kita ke alam pikiran Scout kecil.

Sementara Totto-chan—meski sudah diakui sebagai kisah nyata yang dialami pengarangnya—hadir melalui sudut pandang penceritaan orang ketiga. Lewat perspektif itu, penulisnya dengan leluasa menampilkan kemurnian perasaan dan pikiran, serta reaksi-reaksi si bocah ketika menemui aneka peristiwa.

Novel ini sebenarnya adalah kumpulan memori pengarangnya, tetapi setiap ingatan itu hadir dengan luwesnya tanpa beban “pemaknaan” atau “renungan” yang berlebihan dari penulis. Ruang kosong masih disediakan bagi pembaca untuk menafsir.

Pembaca pun diajak untuk memahami ternyata berbagai pengalaman si gadis cilik, yang kebanyakan terkesan sebagai pengalaman sederhana itu, memberi bekas yang sangat berarti baginya ketika ia dewasa. Dan bersamaan dengan itu pula, kita jadi teringat pada pengalaman diri sendiri sewaktu kanak dulu, entah yang indah atau traumatik.

Hal ini kemudian membuat kita makin menyadari betapa pentingnya menjaga sebaik-baiknya masa kecil anak-anak, siapapun dan dimanapun ia.

Bagaimana Sejarah Dikisahkan

Kedua novel ini juga seperti tidak berpretensi menjadi karya hebat dengan mengangkat peristiwa sejarah yang luar biasa lewat rangkaian plot nan canggih. Pada Totto-chan, fakta sejarah tidak hadir blak-blakan dengan data yang terperinci melainkan diketengahkan lewat pernik kisah hidup si gadis cilik.

Misalnya, tidak langsung disebut bahwa Perang Pasifik terjadi pada 1937 sampai 1945 dan terus menelan korban, tetapi yang diceritakan adalah kunjungan Totto-chan ke rumah sakit untuk menjenguk serdadu-serdadu Jepang yang terluka. Tanpa direncanakan, Totto-chan menyanyi lagu “Yuk, kunyah baik-baik makananmu” yang membuat seorang tentara menangis tersedu sedan, entah karena terkenang pada anaknya atau ingat di medan perang dulu ia hampir mati kelaparan atau karena tak sanggup membayangkan anak-anak seperti Totto-chan akan mengalami kenyataan yang lebih pahit menjelang kekalahan Jepang yang semakin dekat.

Dalam To Kill A Mockingbird juga tidak langsung dinyatakan adanya great depression yang melanda Amerika kala itu, melainkan disiratkan lewat dialog, misalnya saja, saat Atticus menerima kiriman makanan dari orang-orang Afro-Amerika yang bersimpati pada pembelaannya di pengadilan, ia berkata pada asisten rumahtangganya, Calpurnia, “sampaikan pada mereka aku sangat berterimakasih, katakan pada mereka, jangan pernah melakukan ini lagi. Sekarang adalah masa sulit…”

Melalui cara yang demikian, data sejarah lebur dalam keseluruhan cerita. Yang mengemuka dan terasa kemudian adalah jiwa zaman dari periode sejarah terkait. Lebih dari itu, novel-novel ini berhasil mengetengahkan pesan kemanusiaan secara subtil yang sanggup menyentuh batin pembaca dan membersitkan kesadaran. Bukankah ini salah satu fungsi sastra yang utama, melebihi sekadar label novel sejarah yang digadang-gadang telah berhasil mengangkat peristiwa-peristiwa politik penting, mengungkap hal tabu atau tragedi kemanusiaan tetapi ternyata gagal menyentuh dan menggerakkan nurani kita—sebagaimana terlihat belakangan ini pada sejumlah novel best seller di Indonesia?

Yang Mendidik

Tentang pendidikan ini lumayan menarik perhatian saya. To Kill a Mockingbird, yang telah difilmkan ini, pertama-tama menyinggung perihal kekakuan metode pembelajaran di sekolah Scout. Saking kakunya, bahkan bisa memaksa Scout—yang sebenarnya sudah bisa membaca sejak belum masuk sekolah—berpura-pura buta huruf demi mengikuti ambisi gurunya yang meyakini hanya teknik membaca yang ia ajarkanlah yang paling tepat dan mesti diikuti seluruh murid.

Atticus dan Tom Robinson saat di Pengadilan (potongan adegan film ini diambil dari goodreads.com)

Atticus dan Tom Robinson saat di Pengadilan (potongan adegan film ini diambil dari goodreads.com)

Di sisi lain, dikisahkan juga tentang pendidikan yang dilakukan Atticus Finch, seorang single parent, kepada anak-anaknya, Scout dan Jem Finch. Rasanya hampir siapapun ingin mempunyai sosok ayah sepertinya: memahami dunia anak-anak, mendidik kebebasan dalam berpikir dan berekspresi, memerhatikan perkembangan putra-putrinya sembari berusaha menjauhkan mereka dari prasangka dan stigma, (kebetulan ganteng pula, terimakasih aktor Gregory Peck).

Scout dan Jem boleh memanggil ayahnya dengan nama pertamanya: Atticus. Namun bukan berarti mereka tidak menghormatinya sebagai orangtua, mereka bahkan dididik untuk berempati pada posisi dan kehidupan orang lain di sekitarnya sehingga menjadi lebih toleran, terhindar dari praduga dan tidak menghakimi secara sepihak. Tema ini cukup terjaga di setiap babnya, entah ketika berkisah tentang Dill Harris, Mrs. Dubose, Walter Cunningham Junior, Adolphus Raymond, Tom Robinson maupun Arthur “Boo” Radley.

Nilai-nilai yang dipegang Atticus juga diperjuangkan oleh Sosaku Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen yang dengan penuh dedikasi telah mendidik Totto-chan dan teman-teman satu sekolahnya. Kobayashi berupaya mengenal karakter setiap murid sejak hari pertama pertemuan mereka, ia menjaga pertumbuhan pribadi mereka agar berkembang secara wajar, berjiwa positif, percaya diri dan terbuka. Kobayasahi memberi kepercayaan dan mengajarkan tanggungjawab kepada anak-anak itu. Ia membantu mereka mengetahui dan menghargai sisi baik dari diri mereka dan mendorong bakat-bakatnya.

Kobayashi berusaha membebaskan muridnya dari rasa minder yang disebabkan oleh fisik, sebab menurutnya semua tubuh itu indah. Prasangka dan kebencian yang muncul karena ras dan budaya pun ditepis. Ia juga menjaga anak-anak itu dari trauma yang ditimbulkan oleh perang dan sejarah.

Ketika orang Jepang memusuhi Amerika dan pemerintah bahkan mengatakan “Amerika itu setan”, Tomoe Gakuen kedatangan seorang murid baru, anak laki-laki bernama Miyazaki yang lahir dan dibesarkan di Amerika. Mereka cepat bersahabat, anak-anak Tomoe mengajari Miyazaki bahasa Jepang, sementara Miyazaki membawa buku-buku cerita bergambar dari Amerika dan mengajarkan bahasa Inggris kepada mereka. Saat itu pelajaran bahasa Inggris sudah dilarang di sekolah lain karena dianggap bahasa musuh.

Tetap Memikat

Saya kira tiga hal di atas termasuk dalam daftar alasan utama mengapa novel-novel ini masih dicetak ulang dan dipajang di rak-rak toko buku. Keduanya memang tetap memikat dan bisa jadi bahan studi, bukan hanya bagi para pengarang, peneliti dan guru, tetapi juga anak muda umumnya.

Secara acak saya tanya teman-teman di kota lain, ada yang sudah baca buku ini sejak SMP di perpustakaan sekolah dulu ada juga di masa-masa kuliah. Tak jarang juga yang terinspirasi menjadi guru gara-garanya.

Saya merekomendasikan kedua bacaan ini, terutama di masa-masa sekarang, saat pendidikan di sekolah kebanyakan masih menjemukan dan kurang membangun karakter anak; saat orang-orang merindukan karya sastra yang mengisi jiwa; dan terutama saat kartu undangan pernikahan saudara dan kawan-kawan mulai berdatangan dari seluruh penjuru, buku-buku ini bisa dijadikan kado istimewa buat para calon orangtua… ^.^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s