Gugatan dalam Karya Gustra

Potret orang-orang berlumuran cat aneka warna yang sebagian berwajah seram itu tampak memenuhi pigura. Salah satu diantaranya terlihat memakai smartphone, sementara pemuda lain yang sekujur tubuhnya berwarna hijau mengenakan kain poleng dan kacamata hitam.

Ada juga anak kecil berwujud serupa zombie dengan bercak darah buatan di baju. Tangan mungilnya tampak menggenggam penjor. Di tengah-tengah mereka berdiri sebuah plang segitiga bertuliskan “Hati-Hati Ada Upacara Agama” lengkap dengan logo sponsor sepeda motor.

Ida Bagus Putra Adnyana, seniman fotografi yang kerap disapa Gustra (58), menggabungkan potret sejumlah anak muda yang mengikuti ritual Ngerebeg itu menjadi satu. Tak ada rekayasa berlebih dalam foto tersebut. Walau jelas, ada seungkap pesan yang ingin disampaikan kreatornya: suatu upaya membaca realita Bali kini.

Makna foto berjudul “Hati-Hati” itu kian menemukan konteksnya bila dipertautkan dengan karya-karya fotografi lain yang ditampilkan pada pameran “Tiga Dasa Warsa, Tiga Sisi Rupa Gustra” di Bentara Budaya Bali (BBB), 14-22 Mei 2016.

Citra Bali

Penyair Umbu Landu Paranggi menyaksikan pameran Gustra

Penyair Umbu Landu Paranggi menyaksikan pameran Gustra

Tema yang diangkat pameran ini adalah gugatan atau kritikan terhadap citra pulau Bali. Sebagai fotografer yang karya dan namanya dulu sering muncul di postcard, Gustra pastinya tahu benar mana sisi elok Bali yang disenangi turis. Segelintir pengunjung pameran mungkin menyangka akan menyaksikan karya serupa itu pada eksibisi tunggalnya di BBB.

 

Namun, berbagai hasil jepretan tersebut nyatanya tak berhenti pada sisi molek dan “eksotik” Bali yang mengikuti citraan Pulau Surga—yang dikonstruksi sejak masa kolonial dan masih langgeng karena adanya berbagai relasi kuasa dan kepentingan.

Lewat sejumlah karyanya, Gustra berupaya memperlihatkan “kenyataan yang senyatanya” seperti potret kemiskinan dan aneka simbol yang mencerminkan kebaruan: hal yang bertentangan dengan bayangan orang terhadap Bali yang tidak berubah, yang selalu damai dan harmoni dalam ekstotikanya, masih senantiasa The Last Paradise.

Gustra juga menggiring kita melihat Bali yang ada di tengah arus globalisasi, kian berkelindan dengan modernisme dan kapitalisme serta berbagai perubahan yang memunculkan tantangan baru.

“Melasti :Titian Batin”

Upaya penyadaran ini tecermin salah satunya dari cara penempatan karya-karya Gustra di ruang pameran BBB. Misalnya, foto berjudul “Melasti: Titian Batin” yang memperlihatkan sekumpulan umat khidmat berjalan melewati genangan air yang memantulkan bayangan diri mereka.

Potret yang diposisikan paling dekat pintu masuk ini seperti hendak mempersiapkan pengunjung memasuki ruang batin Gustra sebagai hasil perenungannya, sekaligus mengajak kita meniti batin sendiri serta melakukan refleksi terhadap pulau yang kita cintai.

Pada deretan foto awal, disuguhkan sejumlah dokumentasi budaya dari berbagai ritual di Bali, yang menurut kurator Bentara Budaya, Putu Fajar Arcana, memiliki kedalaman arti. Dalam pengantarnya di katalog pameran, Putu menyatakan Gustra melawan eksotisme yang muncul pada hasil bidikan fotografer asing seperti Gregor Krause, melalui unsur-unsur cerita yang terkandung dalam karyanya, yang dibangun dari pengetahuan dan pengalaman Gustra sebagai orang Bali.

"Jelata Kita"

“Jelata Kita”

Selain itu, ditampilkan pula dokumentasi sosok-sosok jelata, mereka yang terpinggirkan dalam siklus pembagian dolar, seperti ditunjukan dalam foto “Bali Apa Adanya,” “Jelata Kita,” “Mule Keto,” “Derita Kita,” atau potret yang mengkritisi masalah lingkungan dan pariwisata bertajuk “Sampah, For Sale”.

Foto lainnya juga bermakna simbolik, semisal “Ruang Renung” menampakkan perempuan di kamar berterali besi, serta “Urai Rantai” yang memperlihatkan sepasang kaki terpasung. Persis di sebelahnya, ada foto “Rekayasa Jendela” yang menampilkan tubuh molek perempuan yang muncul dari balik jendela, serta “Gumi Luwih Ni Tanjung” yang memotret kreativitas seniman Art Brut dari Karangasem. Ni Tanjung yang memiliki “gangguan kejiwaan” melahirkan karya seni rupa yang dipandang orisinal, bahkan pernah dipamerkan dan dikoleksi museum di Swiss.

Komposisi foto-foto di atas pada akhirnya menciptakan segugusan makna yang mengandung pertanyaan: siapakah yang sesungguhnya terpasung? Tidakkah Ni Tanjung, melalui kebebasan ekspresi dalam dunia penciptaannya, justru lebih merdeka dari sebagian kita yang terkungkung, baik sadar atau tidak, oleh rekayasa citra yang membatasi lompatan kreatif?

Menyikapi Perubahan

"Urai Rantai"

“Urai Rantai”

Gustra, seperti juga masyarakat Bali umumnya, menerima dampak dari proses transisi yang terjadi, misalnya dari masyarakat agraris-komunal menjadi pekerja industri yang kian modern individual. Permasalahan kerap muncul ketika seseorang tidak siap akan fenomena itu. Ia merasa makin terasing atau tenggelam dalam arus perubahan karena tak pernah mempertanyakan apapun.

Transisi Bali itu terjadi seiring proses penemuan diri Gustra, baik sebagai pribadi maupun selaku pencipta, selama tiga dasawarsa sejak 1980-an. Di tengah itu semua, Gustra juga menyadari pesatnya perkembangan teknologi kamera yang jadi perangkatnya dalam mengutarakan gagasan.

Ia pun “menggugat” proses kreatifnya dengan memperluas medan eksplorasi. Dari documentary culture  photography  ia  merambah ke teknik composite yang menggabungkan sejumlah foto lewat proses digitalisasi. Gustra pun mempelajari fushion photography yang menggunakan disiplin seni rupa.

“Bukan Masa Lalu”

“Ini boleh dikata sikap saya terhadap kemudahan sekaligus tantangan yang ditawarkan oleh perkembangan teknologi. Kita memerlukan pemikiran dinamis agar tetap hadir sebagai pencipta” ujar Gustra.

Metamorfosa kreativitas tersebut memang tak hanya dialaminya, tetapi juga sejumlah orang Bali lain, entah seniman, pengusaha, pemilik museum atau profesi lainnya yang dengan jeli melihat peluang dari perubahan.

Dalam konteks Bali, spirit budaya dan pencapaian para sesepuh kita tentu tetap menjadi pegangan bersama dalam menentukan arah ke depan. Hal ini disimbolkan secara subtil lewat potret fushion photography maestro tari Ida Bagus Blangsinga yang diberi judul “Bukan Masa Lalu”. Walau begitu, kita mesti tetap kritis pada “sejarah” dan membuka mata bahwa ada bagian dari Bali yang telah berubah, ada tantangan baru yang menuntut keterbukaan dan sikap kreatif kita.

 

dimuat di Tribun Bali, 29 Mei 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s