Merawat Harapan ODS di Rumah Berdaya

Tepuk tangan terdengar begitu video dokumenter tentang Wayan Sumartana (36) usai ditayangkan Sabtu lalu (14/1). Di tengah suasana semarak yang hangat itu, ibunda Wayan terlihat berkaca-kaca. Ia terharu, mengingat lagi perubahan putra pertamanya yang menyandang Skizofrenia.

Berbeda dari tahun lalu, kini Wayan tak lagi dipasung seperti terekam dalam film. Malam itu, ia duduk tak jauh dari ibu dan adiknya, di antara Orang dengan Skizofrenia (ODS) lainnya yang juga ditemani keluarga.

Mengawali 2017, Wayan dan sekitar 20 ODS yang menjadi “warga” Rumah Berdaya—sebuah komunitas pemberdayaan dan rehabilitasi psikososial bagi ODS di Denpasar—melakukan refleksi 2016 sekaligus doa untuk tahun baru.

“Sekarang kan sudah baik kondisinya, mudah-mudahan Bli Wayan cepet nganten” ujar adik Wayan spontan disambut tawa hadirin.

Acara bertajuk “Ramah Tamah KeluWarga” itu dimulai sejak sore hari, diawali dengan panen perdana hasil kebun warga Rumah Berdaya. Mereka menuai bayam, sawi, kangkung dan sayur mayur lain yang ditanam sendiri sejak Desember lalu.

Panen Perdana

Panen Perdana (foto: Martino)

Ada siratan kegembiraan pada wajah keluarga yang datang. Meski berlangsung sederhana, panen tersebut cerminan upaya warga Rumah Berdaya untuk melakukan hal yang bermanfaat.

Bercocok tanam tentunya memerlukan kesabaran dan ketekunan sejak pertama menyemai benih sampai akhirnya menghasilkan sayur hijau segar. Merawat tanaman kiranya sama dengan merawat harapan. Proses ini seolah merefleksikan juga perjuangan mereka meraih kesembuhan.

Dalam kesempatan itu pula, relawan dari kalangan psikolog menggelar sesi psikoedukasi yang diikuti para keluarga yang berjumlah hampir 30 orang. Tak hanya mendiskusikan masalah yang dihadapi selama proses pemulihan anggota keluarganya yang ODS, mereka juga bertanya perihal mekanisme perubahan Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) menjadi Kartu Indonesia Sehat (KIS) bersama perwakilan Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kota Denpasar.

“Kalau (penerapan) KIS terlambat, (ODS) tidak akan dapat pengobatan ya?” tanya salah seorang keluarga. Perwakilan dinas pun berkomitmen untuk menindaklanjuti pengurusan KIS ini.

Sejak November 2016, Rumah Berdaya memang aktif menyuarakan hak-hak ODS untuk mendapat jaminan kesehatan KIS. Mengakhiri sesi tersebut, para keluarga sepakat untuk terus mengadakan pertemuan setiap dua minggu sekali.

Bersamaan dengan berlangsungnya psikoedukasi, warga Rumah Berdaya bersama relawan memasak hasil panen dan beberapa hidangan untuk disajikan kepada keluarga.  Menunya ada sayur urap, tempe dan tahu goreng, pepes dan bakso ikan, ayam bakar, kelapa muda.

Selepas petang, makanan pun dihidangkan. “Kalau biasanya keluarga yang mengurus dan menopang kami, sekarang giliran kami yang melayani,” ujar I Nyoman Sudiasa (43), salah satu ODS yang telah pulih dan kini menjadi Ketua Rumah Berdaya.

Acara malam itu juga diwarnai dengan penampilan dari warga Rumah Berdaya. Paling istimewa yakni pertemuan antara Wayan Sumartana dan Komang Muditha (29) dengan penyanyi pop Bali, Widi Widiana. Keduanya pun sempat berduet dengan sang idola.

Wayan Sumartana dan idolanya

Wayan Sumartana dan idolanya (foto: Martino)

Kedatangan Widi Widiana tak terlepas dari video dokumenter Wayan Sumartana yang diputar sebelumnya. Dalam film bertajuk “Embrio Revolusi Kesehatan Mental Denpasar” itu, Wayan menyanyikan lagu Widi  berjudul “Tusing Jodoh”.

Dokumenter karya sineas Oka Sudarsana tersebut, selain memotret fragmen kehidupan Wayan, juga menggambarkan embrio perjuangan Rumah Berdaya. Dibentuk sejak 5 September 2016, Rumah Berdaya yang digagas oleh dokter I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ dan seniman Budi Agung Kuswara ini memberi ruang bagi ODS untuk berdaya kembali melalui gerakan bernama DenSAM (Denpasar SchizoFriends Art Movement).

Selain melakukan berbagai kegiatan seni dan membuat kerajinan, warga Rumah Berdaya belakangan juga berkebun dan membuka jasa cuci motor. Mereka juga sempat memamerkan karya-karya seninya dalam sejumlah acara seperti Mabesikan dan Denpasar Festival 2016. “Sekarang teman-teman juga sedang buat kolam ikan,” ujar Nyoman Sudiasa.

Dari aktivitas ini, harapannya warga Rumah Berdaya jadi lebih produktif, mandiri dan mampu mengaktualisasikan diri di masyarakat. “Ini juga perjuangan kami untuk melawan stigma terhadap ODS” tambah Nyoman.

Skizofrenia sebenarnya adalah gangguan pada otak yang disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia penghantar saraf yang memengaruhi fungsi otak dan perilaku. Bila terus menjalani pengobatan dan pendampingan yang baik, ODS dapat kembali pulih.

Sejalan dengan itu, tumbuhnya masyarakat yang tidak diskriminatif kepada ODS tentunya akan sangat berharga dalam mempercepat kesembuhan. Kiranya harapan ini pula yang tersirat dalam kebersamaan Sabtu malam lalu di Rumah Berdaya.

dimuat di Tribun Bali, 24 Januari 2017 hal. 19

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s