carkas#1 : Ada Apa dengan Amour?

Bukan karena besok Valentine, lantas tulisan ini ada. Amour, film terbaik di Festival de Cannes 2012, memang cukup memikat, walau kalau boleh jujur, saya butuh waktu lama sampai akhirnya memutuskan untuk menontonnya. Ah, dramatis amat.. tapi wajarkah saya cemas melihat film bertema cinta?

amour_ver4_xlgSinema ini menghadirkan sepasang suami istri lanjut usia sebagai tokoh utama. Begitu film dibuka dengan adegan kematian sang istri, saya langsung stop dan bertanya sendiri, apa yang bakal dikisahkan sebuah sinema tentang cinta antara dua orang tua? Sebuah filsafat tentang hidup yang absurd atau petuah tak langsung tentang cinta sempurna? Bukannya jadi senyum-senyum sendiri membayangkan masa depan yang happy ending, saya malah khawatir dilanda kekelaman, yang mungkin akan menyeruak setelah menyimak Amour.

Memang ada benarnya dugaan awal itu, bahwa film ini bakal membuka celah merenung buat pemirsanya. Yang agak meleset cuma efek yang timbul setelah menonton. Bukan bayang-bayang kemuraman yang menenggelamkan saya (seperti setelah menonton Black Swan (2010)—yang waktu itu langsung saya hapus dari laptop), atau perasaan mengambang seperti saat film Poetry (2010) berakhir. Bukan juga kecemasan tentang definisi cinta sejati yang sempat muncul ketika melihat Salvatore kembali ke kampungnya di Giancaldo dalam film Cinema Paradiso (1988).

Saya sedikit lega, Amour tidak semena-mena hendak menasehati kita tentang cinta. Tidak juga membuat kita cengeng terhadap hidup yang lalu. Film yang disutradarai Michael Haneke ini setidaknya menyadarkan kita tentang cinta yang melebihi soal romantisme dua insan. Ia mengisyaratkan tema kasih antar sesama, cinta pada kemanusiaan, pada perjuangan menantang hidup. Amour mengingatkan saya pada masterpiece Ernest Hemingway, “Lelaki Tua dan Laut”; pada suatu pergumulan untuk selalu menolak menjadi koma.

Ada satu adegan dalam Amour, ketika sang istri yang telah mengalami stroke meminta suaminya mengambilkan album foto. Setelah membuka halaman demi halaman berisi potret hitam putih, perempuan itu terdiam dan bergumam “La vie est beau, La long vie”  —Hidup itu indah, hidup yang panjang ini.

Emosi dalam Amour kiranya akan terasa lebih mendalam bagi mereka yang sungguh telah melewati hidup yang panjang itu. Bagi mereka yang mencemaskan datangnya maut atau justru telah berdamai dengannya. Bagi mereka yang hormat pada hidup yang telah dilaluinya dengan bekerja membalik tanah, memasuki rahasia langit dan samodra.

Kalau sudah begini, mungkin tulisan ini memang diam-diam saya buat untuk menyambut Valentine esok hari dan Valentine di tahun-tahun mendatang.

: CARKAS atau Catatan Ringkas adalah rubrik baru yang dibuat untuk blog ini. Isinya bisa tentang apa saja. Untuk sementara mungkin lebih banyak tentang film ini dan buku itu. Jadi, selamat mengikuti seri berikutnya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s