carkas#2 : Orang Asing

Kalau saja yang memerankan Kanjeng Dalem bukan Blayne Welsh, kematian Jamarun tak akan semenarik ini. “Siapa yang menemukan mayat? Orang asing. Siapa pembunuhnya? Orang asing. Siapa yang bersalah? Orang asing” kira-kira begitulah seruan Kanjeng Dalem yang begitu menyihir hadirin.

img_20170222_121615

“Cahaya Memintas Malam” dimainkan oleh aktor Indonesia dan Australia ; salah satu adegan “12 Angry Men” (foto: buruan.co + mobi.com)

Jamarun pun digantung. Ia harus mati demi congkaknya prasangka. Babak yang berasal dari cerita rakyat Sunda itu dipentaskan kembali dalam lakon teater berjudul Cahaya Memintas Malam—The Light Within a Night.

Meski mungkin sudah sering dinarasikan sejak dulu, adegan penghakiman Kanjeng Dalem Sabtu kemarin (18/2) di Bentara Budaya Bali boleh jadi terasa lebih sugestif dibanding pertunjukan sebelumnya. Barangkali karena melibatkan aktor-aktor lintas negara diantaranya dari kelompok Mainteater Bandung, Teater Lakon dan La Trobe Student Theater and Film, Australia.

Bayangkan, Kanjeng Dalem yang “bule” itu berteriak-teriak menyebut Jamarun “orang asing” sementara dirinya sendiri, dalam kenyataan di luar lakon, adalah juga orang asing di Indonesia. Kesan kontradiktif ini tentunya secara sadar dirancang oleh sutradaranya, Sahlan Mujtaba dan Bob Pavlich.

Mereka membuat penonton memikirkan ulang apa sih sebenarnya pengertian orang asing, apa batasan identitas, dan mengingatkan bahwa prasangka atas nama identitas ternyata akrab di sekitar kita.

Figur yang dianggap bijak pun bisa punya praduga yang arogan, bahkan mereka dapat memperparah situasi karena kuasa yang dimilikinya. Apalagi kalau tak ada orang, yang dengan akal sehat dan nekat, menyangsikan asumsi yang diamini suara terbanyak.

Seorang anak laki-laki 18 tahun dalam film 12 Angry Men hampir bernasib sama dengan Jamarun andai saja tak ada juri nomor 8. Diperankan oleh Henry Fonda, juri bernama Davis itu tak seketika percaya bahwa anak laki-laki piatu yang tumbuh dengan kekerasan di perkampungan kumuh tersebut adalah pelaku pembunuhan. Ia pun tak segera yakin si anak tak bersalah. Ia hanya ragu.

Modal awal Davis hanya keberanian untuk menyangsikan opini umum yang muncul dalam voting ke-12 juri. Sebagian besar setuju bahwa anak imigran Meksiko itu bersalah membunuh ayahnya dan layak berada di kursi listrik. Sikap sangsi Davis, yang kemudian didukung dengan analisis cemerlang, akhirnya dapat memutarbalik keputusan sebelas juri di pengadilan Amerika pada musim panas tahun 1950an itu.

Selama perdebatan dalam menilai kasus, terkuak bahwa sebagian dari juri yang terhormat ternyata tak terlepas dari  hantu prasangka, entah yang bersifat rasial, kecurigaan pada imigran dan orang yang hidup di lingkungan kumuh serta stigma kepada si anak yang faktanya sudah beberapa kali ditangkap karena mencuri, merampok, berkelahi atau sekadar melempar batu ke guru.

“Wherever you run into it, prejudice always obscures the truth” ujar Davis di tengah perdebatan.

Dalam kasus hukum, sikap praduga tak bersalah selayaknya dipertahankan demi keadilan. Ini penting diingat untuk situasi hari-hari ini, di Indonesia atau negeri mana saja, yang sesak oleh silang sengkarut kasus.

Sementara dalam keseharian kita, termasuk saat bermain media sosial, baiknya tak ada lagi yang berperan sebagai Kanjeng Dalem yang sembarang menghakimi mereka yang dianggap liyan. Sebab, bukankah kita sendiri juga liyan bagi kelompok lain? Bukankah kita pun terkadang masih merasa asing dengan diri sendiri yang tak sepenuhnya bisa dipahami? Ini juga bikin kita bertanya, apa itu kebenaran?

“I don’t really know what the truth is. I don’t suppose anybody will ever really know” ujar Henry Fonda pada kita semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s