carkas#3 : Siasat Populis

Kompas sedang rajin-rajinnya memuat tulisan tentang populisme. Bukan saja sejak Donald Trump digdaya dengan kampanyenya yang kontroversial atau selama Pilgub Jakarta, tetapi juga setelah banyaknya tokoh di dunia yang mengandalkan ide ini sebagai jurus politik.

occupywallst.org

foto : occupywallst.org

Bahkan dalam laporan akhir tahun media ini, disebutkan bahwa parlemen di Italia, Yunani, Swiss, Hongaria, Slowakia dan Polandia sebagian besar telah dikuasai kaum populis. Tokoh yang tak kalah kontroversial, Marine Le Pen, pun dengan percaya diri menyasar kursi presiden pada pemilu tahun ini di Perancis. Menguatnya Geert Wilders di Belanda dan tingginya raihan suara Norbert Hofer di Austria menjadi contoh lain.

Seluruhnya menunjukkan arah yang sama : populisme kanan yang dulu dianggap keliru, kini diam-diam menyeruak seolah membantah nilai-nilai yang selama ini umum diyakini.

Jangan jauh-jauh lagi ke Italia atau Jerman yang juga mengkhawatirkan. Tak perlu menyinggung Brexit dan pamor Bharatiya Janata Party di India. Sebab, di Indonesia sendiri, fenomena ini terjadi.

Populisme sering disebut mengutamakan kepentingan rakyat kecil untuk melawan penguasa yang dinilai lalim. Dalam prakteknya belakangan, populisme juga mengetengahkan ide tentang masyarakat mayoritas “yang tertindas” dan sekelompok elite minoritas “yang terus menindas”.

Bila dulu populisme kiri berbasis pertentangan kelas sosial, kini populisme kanan justru memunculkan nasionalisme berlebih, sentimen atas nama agama, etnis, ras atau politik identitas kultural lainnya. Sebagian kaum populis pun tidak segan untuk menebarkan kebencian demi menarik konstituen.

Mengapa ide ini diterima secara masif di tengah kepercayaan umum tentang humanisme, penghormatan akan keberagaman, dan nilai-nilai lain yang dijunjung demokrasi? Jawabannya, barangkali karena masyarakat justru sudah kecewa terhadap demokrasi, yang salah satunya dirasa tidak memihak ekonomi mereka. Mungkin ada banyak alasan lain, dan para populis dengan jeli memanfaatkan ini.

Kalau kemarin banyak di antara kita yang prihatin bahkan ada pula yang menertawai Amerika dengan terpilihnya Trump, maka jangan sampai kita juga yang dalam pemilu kelak memilih pemimpin atas dasar politik identitas yang sarat adu domba dan buruk sangka.

Akhirnya, untuk kampung halaman saya, penting juga dinyatakan, bahwa orang Bali pun—yang kendati minoritas di Indonesia, tetapi menjadi mayoritas di pulaunya—harus waspada pada elite politik setempat yang dengan gesit telah memperagakan itu siasat. Apalagi, Pemilihan Gubernur sudah kepalang dekat!

 

 

PS: ada sejumlah pengertian lain populisme, izinkan tulisan ini mengambil definisi yang belakangan sering muncul di media Kompas. Mengapa Kompas? kebetulan saya langganan Kompas karena berisi dan pas dapat harga promo. Adapun definisi di Kompas ini juga muncul dalam artikel-artikel tentang populisme di media lain di Indonesia maupun internasional. Tulisan ini amatlah pendek, namanya juga carkas. Semoga bisa menggelitik pembaca untuk mencari tahu lebih jauh. Salam sejuk..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s