carkas#4 : Perang dan Pengetahuan

Film atau Nyata? (adegan “The Pianist” & Aleppo kini)

Barangkali lewat film Eropa dan Iran saya pertama kali merasakan kengerian perang. Selebihnya dari buku-buku dan samar-samar dari berita yang tak mudah dihayati seketika.

Sebagai generasi yang lahir di Denpasar era 90-an, saya beruntung tidak pernah mengalami perang apalagi melihat pembantaian massal seperti Bapak dulu. Di sisi lain, sebagian generasi 90-an boleh jadi memang cenderung steril alam pikirannya dari kekerasan atau konflik politik berdarah yang sebenarnya telah dan tengah terjadi di sepanjang hayat kami.

Perang selalu merontokkan manusia. Raga dan jiwanya. Perang bisa hancurkan bangunan, alam dan kepercayaan manusia pada nilai-nilai yang diyakininya, termasuk pada keunggulan dunia modern yang  dianggap dapat “mengadabkan” napsu pembantaian yang barbar itu.

Sayangnya, modernitas sendiri justru melahirkan perang-perang baru dan absurditas yang kemudian dipertanyakan manusia. Mereka mencari jawabnya dengan renungan dan gugatan yang melahirkan diskursus, karya seni, pemberontakan, kehausan spiritual hingga sikap hidup.

Tapi sejak pasca Perang Dunia II sampai sekarang, perang nyatanya masih berlangsung, bahkan masa depan jadi kian mengkhawatirkan dengan penajaman perbedaan yang kini terjadi dimana-mana, mobilisasi kebencian yang merebak begitu gampang di dunia maya, serta masalah-masalah ekonomi yang seolah mendesak orang-orang mengorbankan akal budinya.

Dan dunia modern, dengan segala kecanggihannya, sekali lagi gagal menjawab permasalahan yang ia timbulkan sendiri. Khusus kalimat ini, saya kutip sebagian dari pidato pendek Hilmar Farid yang beberapa hari lalu bicara di Bedulu. Sekilas ia juga menyinggung fenomena kemunculan forum-forum sejarah maupun komunitas budaya yang terjadi di banyak negara. Apa hubungan kedua hal ini?

Ketika produk modernitas seperti teknologi canggih dan segala yang praktis tak dapat menghadiahi perangkat instan untuk mencegah semakin parahnya perang, maka orang-orang kembali beralih kepada sejarah, filsafat, sastra, budaya dan pengetahuan humaniora lainnya. Pengetahuan yang sekian lama dipandang sebelah mata itu menjadi harapan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang peristiwa hari ini, untuk lebih berempati dan melihat persamaan di tengah perbedaan, dan pada akhirnya menemukan kebermaknaan hidup.

Lantas, apa kontribusi kita di tengah arus tersebut? Bicara kebijakan, mengutip lagi pidato di Bedulu, pemerintah kini hampir rampung membahas RUU Kebudayaan yang lebih mengetengahkan pada tata kelola. Jika RUU yang tak pernah selesai sejak 1980an ini akhirnya disahkan, sasaran berikutnya menjadikan Indonesia benar-benar sebagai pemain, tak hanya dalam tataran ekonomi kreatif (dimana pengetahuan menjadi salah satu aset utamanya), tetapi untuk misi yang lebih besar, diantaranya menjamin kebebasan berekspresi, nilai identitas bangsa dan penghormatan akan keberagaman, membantu masyarakat lebih siap akan perubahan dan ujungnya adalah mendorong perdamaian.

Saya kira ada harapan di sana. Kita tunggu saja. Sembari itu, sudah sepantasnya para kreator, komunitas, pemikir, peneliti, pendidik, pemerhati sampai penghobi pun ambil bagian untuk mengisi momentum ini. Bukankah Indonesia sering dicap gudangnya kreativitas? Kesempatan dan panggung yang tersedia kiranya dapat diraih dengan kesadaran dan panggilan yang lebih besar.

Sebab, seperti yang seseorang pernah bilang kepada saya : pengetahuan akan lebih bermakna ketika ia berhasil menumbuhkan pemahaman, dan pemahaman akan berguna jika memunculkan tindakan atau pengalaman. Bahkan cukup dengan sebuah film dan buku yang bagus, kesadaran dan pemahaman sudah bisa dipantik, apalagi jika ada lebih banyak karya lain entah apapun bentuknya, yang ikut menyokong pengetahuan tersebut.

Muluk-mulukkah ini semua? Bisa jadi. Tapi ia tetap berharga dan layak diperjuangkan. Kalau tidak, bayangkan masa depan ketika kebutuhan manusia tak sebanding dengan ketersediaan alam, ketika ketidakpedulian bercampur dengan sempitnya pola pikir. Dan semuanya adalah bahan baku politikus culas untuk menggaet massa demi kepentingannya semata. Saat konflik-konflik terakumulasi, perang, barangkali adalah episode berikutnya.

 

foto
cover : jasonedmiston.com
foto kolase : adegan film “The Pianist” (pinterest.com), foto Aleppo (elpais.com)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s