carkas #5 : Adria

Adria marah saat tahu teman-temannya nyaris tertawa waktu upacara bendera. Adria marah sampai menangis. Teman-temannya pun terperangah, di ruang rawat inap itu, mereka ikut tersedu sejadi-jadinya.

Mungkin situasi tidak akan sepelik ini jika saja upacara bendera tak diadakan di tempat yang jauh dari tanah air; jika saja Adria tidak melewatkan upacara bendera karena jatuh sakit; jika saja sepatu teman Adria tidak selip waktu baris berbaris dan memancing ketawa sebagian peserta upacara;  jika saja teman-teman Adria tidak menyiarkan peristiwa itu via skype untuk menghiburnya; jika saja Adria bukan dari tanah Papua; dan jika saja itu bukan Adria.

Sebab gadis itu yakin, upacara bendera adalah momen khusuk—begitupun menurut saya. Namun, lebih dari itu, buatnya upacara bendera juga berarti simbolis, sesuatu yang terkait dengan kemauannya untuk tetap diakui sebagai bagian dari Indonesia. Mengapa Adria bisa seyakin itu?

Adria yang saya sayangi, saya tak pernah menanyakan ini padamu, walau saya tetap suka membatin, apa menjadi Indonesia masih layak diperjuangkan oleh remaja penuh semangat seperti Adria, setelah sekian masalah dan kebrutalan (dibuat) terjadi di tempatmu, sementara seperti yang Adria tahu, di televisi, meja makan, ruang kelas, kota besar sampai dusun kecil di kaki Merapi, stigma kepada orang Papua masih terus direproduksi.

Tentu banyak peristiwa telah dilalui Adria sehingga membentuk keteguhan hatinya. Saya tak berniat menghakimi Adria. Saya pun masih cinta pada negara ini, meski cinta itu kerap bertepuk sebelah tangan.

2010

Cerita tentang Adria juga mengingatkan pada kejadian tujuh tahun lalu. Saya dan sejumlah mahasiswa serta rombongan pemerintah dari Jakarta berkunjung ke beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur. Seperti umumnya lawatan resmi, setiap kali mampir ke satu kabupaten, kami akan disambut dengan pidato para Bupati, perwakilannya atau sesepuh setempat.

Setelah mengunjungi beberapa kabupaten, saya mulai sedikit terganggu dengan pikiran sendiri. Kenapa pidato-pidato sambutan itu hampir selalu disudahi dengan kalimat yang kira-kira bunyinya: “…ya bagaimanapun juga kami tetap mencintai Indonesia, bangga dengan NKRI dan nasionalisme kami.” Kadang dalam satu pidato saja, kalimat serupa bisa disebut lebih dari sekali.

Ini mengingatkan juga pada kemesraan berlebih pasangan kekasih di media sosial dan guru SMA dulu yang sering curhat pada murid-muridnya (ya, pada muridnya!) “saya sangat mencintai suami saya, kami begitu akur, dia sungguh baik.”

Tidakkah semakin sering atau berlebihnya sesuatu diungkapkan, sebenarnya berpotensi mencerminkan hal sebaliknya? Motifnya tidak selalu untuk mengelabui orang lain, tetapi kadangkala untuk mensugesti atau mendamaikan diri agar percaya bahwa semuanya baik-baik saja.

Sejumlah tokoh di NTT tadi, tujuh tahun lalu, tentu tidak menampik adanya kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan yang berlangsung di daerahnya. Bahkan beberapa diantara mereka terang-terangan menyampaikan  masalah seperti akses air, listrik, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Uniknya, gugatan itu kemudian ditutup dengan kalimat yang menurut saya sangat satire, setengah kecewa-pasrah separuh sinis, tapi ada juga letupan semangatnya, walau diujung, nada yang getir itu samar-samar tetap terdengar.

Pidato-pidato tersebut memang selalu diakhiri dengan riuh tepuk tangan hadirin. Mungkin karena itu lawatan resmi. Sebab kalau bukan, mestinya sebagian hadirin terperangah, persis seperti teman-teman Adria, meski tak diharuskan ikut tersedu bersama.

Pidato-pidato itu juga akhirnya menepak halus ubun-ubun saya, supaya bersyukur dengan segala yang dipunya dan tak dipunya, tapi rasanya itu tidak cukup juga. Toh sampai sekarang masih jadi hantu yang membayangi, terlebih saat saya mengenang Adria, isak dan kemarahannya.

Walau demikian, saya masih saja tidak tahu isi hati Adria sebenarnya. Mungkin suatu saat kami akan ngobrol bersama, mungkin juga tidak.

Namun Adria boleh catat satu hal: kembang yang elok di taman mungkin enak berkali-kali dipandang, tetapi kalau kebun rumahmu gersang, kau boleh pulang dan rindangkan pohonmu sendiri. Jika suatu saat berubah pendirianmu, jangan ragu, jangan mengerdip.

 

 

*** Adria bukan nama sebenarnya. Foto : pinterest.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s