carkas#6 : Dua Putri dan Ida

Dua gadis itu senang sekali berkata-kata kotor. Walau kelihatan malu-malu, mereka sebenarnya girang betul. Mungkin omongan nyeleneh memang punya efek membebaskan sehingga bisa bikin ketagihan, apalagi buat bangsawan seperti Dewa Agung Ayu.

Sejak tadi mereka berdua terus saja ditegur oleh para panjaknya yang merasa perlu mengajarkan tata susila buat sang putri. Sambil keheranan, dua laki-laki itu menggerutu, “Kok ada Ratu ngomong begitu, beler sajan!*

Adegan demi adegan pada pementasan topeng bondres di Taman Budaya Bali malam itu sudah tentu disengaja supaya lucu dan menghibur. Para penonton yang memenuhi kursi gedung Ksirarnawa pun terpingkal-pingkal.

Duduk di tangga bagian tengah—lantaran tak kebagian kursi—saya beberapa kali mendengar ibu-ibu tertawa penuh semangat, barangkali teringat kenakalan yang pernah dilakukan atau keisengan pribadi yang terpendam. Saya pun ikut tersengat kegembiraan mereka.

Alangkah cerianya para Dewa Agung Ayu di atas pentas itu, ceplas-ceplos seenak hati, bisa bandel tanpa banyak beban. Awalnya sih begitu yang terpikir. Namun, segera setelah itu, malah jadi teringat kenyataan yang lain. Interaksi Dewa Agung Ayu dan dua abdi kerajaan tersebut memang bagian dari pertunjukan komedi, tetapi, bukankah komedi yang berhasil selalu berangkat dari kenyataan sehari-hari?

Kenyataan bahwa masih banyak orang seperti panjak Dewa Agung yang menilai kalau perempuan yang lakunya tidak lemah lembut ya kurang patut, jika ujarannya suka jorok artinya ada yang salah atau dia kelewat berani. 

Soal-soal begini muncul juga waktu sekolah dulu. Anak laki yang suka nyeletuk di kelas biasanya dianggap lucu oleh guru, tapi kalau perempuan, sesekali pernah ditanya “nomor absen berapa?” Ya, kadang ada “penilaian khusus” buat kaum hawa ini.

Memang tidak mudah mengubah standar-standar berperilaku dan tata cara hidup yang diwariskan turun temurun. Perempuan yang bangsawan atau bukan, yang bernapas di abad lalu atau sekarang, masih hidup dalam tuntutan masyarakat yang sebagian tetap bersetia pada nilai-nilai salah-benar yang kurang menguntungkan perempuan. Mau memberontak? boleh saja, dan dalam kondisi tertentu itu perlu.

Dari pertunjukan tradisi Bali tadi, mari beralih ke film monokrom berlatar Polandia awal tahun 1960an. Ida, demikian judul film yang disutradarai oleh Paweł Pawlikowski tersebut. Sinema yang kontroversial di negara asalnya itu sebenarnya tidak mengambil tema perempuan sebagai perhatian utamanya. Karena itu, tulisan ini pun hanya menukil beberapa adegan tertentu, walau sejatinya tetap tak terlepas dari tema besar film, yakni seputar sejarah Polandia, trauma pasca perang, gambaran identitas yang hybrid dan stereotip di masyarakat.

Foto: nusabali.com, bostonglobe.com

Dikisahkan tentang Ida Lebenstein (Agata Trzebuchowska), seorang gadis yatim piatu yang sedari bayi dibesarkan di biara Katolik. Sejak belia ia sudah memantapkan diri kelak ingin mengabdi sebagai biarawati. Senormalnya manusia, sesekali lamunan-lamunan sensual menyusup juga ke dalam kepalanya yang terbalut kerudung. Hal-hal alamiah tersebut hanya dipendamnya sendiri, ia tetap tertib menjalani kesehariannya, makan pun dilakukan dengan khidmat seperti saat berdoa.

Melihat latar belakangnya sejak kecil, apakah Ida memang tidak punya pilihan lain?

Menariknya, sebelum mengikrarkan sumpah setia, suster kepala memberi Ida kesempatan untuk menjumpai satu-satunya kerabatnya yang masih hidup. Ida bertemu bibinya bernama Wanda Gruz (Agata Kulesza). Setelah perjumpaan itu dan sesudah “melihat” dunia luar, Ida menghadapi kenyataan yang tidak pernah mudah : orangtuanya dibunuh pada Perang Dunia II lalu dijejalkan di tanah hutan tanpa nisan, dan ia sendiri, seseorang yang telah meletakkan iman seteguhnya pada Kristus, ternyata adalah keturunan yahudi.

Ida tampak melewati semuanya dengan dingin. Sampai akhirnya, sang bibi—seorang ibu yang anaknya tewas saat PD II; Stalinist prosecutor yang mengirim maut bagi para musuhnya; seorang perempuan keras yang terbiasa dengan “kehidupan maksiat”  yang karena rasa sayang dan kecewa pernah mempertanyakan makna kesalehan keponakannya sendiri—bunuh diri. Sepeninggalan Wanda, Ida justru memulai momen pemberontakannya.

Ia melepas kerudung dan melakukan berbagai hal yang selama ini dianggapnya dosa. Apakah ini murni kesadaran pemberontakan terhadap tradisi, institusi agama, sejarah? Ataukah lebih merupakan pembuktian pada diri untuk mengetahui batas iman? Atau frustasi di ambang pergulatan mencari identitas?

Yang jelas, setelah mengalami semua “dosa-dosa”, Ida memutuskan mengenakan kembali pakaian lamanya berikut kain penutup kepala dan meninggalkan di atas ranjang seorang tampan pemain saksofon.

Mungkin ikut tur jazz keliling dan beranak dengan musisi bukan hal yang Ida dambakan, mungkin juga ia hanya ingin merasai segala pengalaman duniawi sebelum akhirnya melepaskan itu semua sebagai wujud pengorbanannya kepada Yang Kuasa. Namun, dalam scene terakhir film, sebenarnya tidak jelas juga, apa benar Ida kembali biara?

Entahlah. Yang pasti, Ida telah mencoba kemungkinan yang berbeda, ia berani sejenak berjarak bahkan bernegasi dari adat dan lingkungannya semula. Latar belakang kultural dan rasial pun tidak serta merta menentukan identitas yang dipilihnya. Apapun keputusan Ida di akhir, setidaknya itu lahir dari pergumulan atas pilihan-pilihan yang terbuka, dan Ida punya andil besar untuk menilai sendiri apa yang terbaik buat dirinya.

Kebebasan seperti itu memang seringkali hasil dari pemberontakan, walau tidak mesti selalu ekstrim. Kita bukan lagi Dewa Agung Ayu di zaman kerajaan dulu, sekarang segalanya jadi lebih mungkin, asal yakin dan tahan banting.

 

 

 

*beler sajan : bandel sekali!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s