Ulasan buku “Tanda bagi Tanya”

Dua tulisan ini dibuat untuk program Musyawarah Buku “Tanda bagi Tanya” di Komunitas Salihara, Jakarta, 14 Maret 2018. Sila dinikmati ☕ 1.  Kegelisahan, Refleksi, dan Nostalgia : Membaca Frischa Aswarini dalam Tanda bagi Tanya karya Dymussaga Miraviori. 2. Adakah Pertanyaan untuk Lirisisme dalam Tanda bagi Tanya dari Fariq Alfaruqi. Advertisements

carkas#7 : Time’s Up?

“Perempuan jangan sekali-kali lari dari rumah suami!” “Gimana kalau suaminya melakukan kekerasan? Tetap tak boleh pergi?” “Sekarang kan sudah ada psikolog, ada psikiater, bisa konsultasi supaya lebih kuat hadapi suami.” Sore itu saya duduk depan TV, kepala sedikit pening dan diam-diam ingin menyabotase jaringan listrik supaya tak ada yang tahu kelanjutan percakapan tadi. Sayangnya ide…

carkas#6 : Dua Putri dan Ida

Dua gadis itu senang sekali berkata-kata kotor. Walau kelihatan malu-malu, mereka sebenarnya girang betul. Mungkin omongan nyeleneh memang punya efek membebaskan sehingga bisa bikin ketagihan, apalagi buat bangsawan seperti Dewa Agung Ayu. Sejak tadi mereka berdua terus saja ditegur oleh para panjaknya yang merasa perlu mengajarkan tata susila buat sang putri. Sambil keheranan, dua laki-laki…

carkas #5 : Adria

Adria marah saat tahu teman-temannya nyaris tertawa waktu upacara bendera. Adria marah sampai menangis. Teman-temannya pun terperangah, di ruang rawat inap itu, mereka ikut tersedu sejadi-jadinya. Mungkin situasi tidak akan sepelik ini jika saja upacara bendera tak diadakan di tempat yang jauh dari tanah air; jika saja Adria tidak melewatkan upacara bendera karena jatuh sakit;…

carkas#4 : Perang dan Pengetahuan

Barangkali lewat film Eropa dan Iran saya pertama kali merasakan kengerian perang. Selebihnya dari buku-buku dan samar-samar dari berita yang tak mudah dihayati seketika. Sebagai generasi yang lahir di Denpasar era 90-an, saya beruntung tidak pernah mengalami perang apalagi melihat pembantaian massal seperti Bapak dulu. Di sisi lain, sebagian generasi 90-an boleh jadi memang cenderung steril alam pikirannya dari kekerasan atau konflik politik berdarah yang…

carkas#3 : Siasat Populis

Kompas sedang rajin-rajinnya memuat tulisan tentang populisme. Bukan saja sejak Donald Trump digdaya dengan kampanyenya yang kontroversial atau selama Pilgub Jakarta, tetapi juga setelah banyaknya tokoh di dunia yang mengandalkan ide ini sebagai jurus politik. Bahkan dalam laporan akhir tahun media ini, disebutkan bahwa parlemen di Italia, Yunani, Swiss, Hongaria, Slowakia dan Polandia sebagian besar telah dikuasai…

carkas#2 : Orang Asing

Kalau saja yang memerankan Kanjeng Dalem bukan Blayne Welsh, kematian Jamarun tak akan semenarik ini. “Siapa yang menemukan mayat? Orang asing. Siapa pembunuhnya? Orang asing. Siapa yang bersalah? Orang asing” kira-kira begitulah seruan Kanjeng Dalem yang begitu menyihir hadirin. Jamarun pun digantung. Ia harus mati demi congkaknya prasangka. Babak yang berasal dari cerita rakyat Sunda…